PERSEPSI PEREMPUAN- PEREMPUAN KOMBAI – KOROWAI TENTANG SUAMI? JAWABAN YANG SANGAT KONTRADIKSI DENGAN NILAI-NILAI KELUARGA

Kamis, 13 Oktober 20

Kamis, tanggal 28 Oktober 2015, tepat jam 11.00 WIT saya bersama teman saya terbang menggunakan pesawat kecil twin otter dari Tanah Merah ibukota Kabupaten Boven Digoel menuju tanah adat suku Kombai – Korowai di Distrik Yaniruma.  Perjalanan memakan waktu  kurang lebih 20 menit. Dalam perjalanan itu, saya menikmati pemandangan sungai Digoel yang tampak rabun ditutupi embun dan air sungai yang terlihat menyempit. Ternyata pada saat  itu telah terjadi musim kemarau panjang yang menciptakan kabut asap.
Suku Kombai-Korowai, suku yang terkenal dengan rumah pohonnya dan hanya  saya dengar dari sebuah film berjudul LOST In Papua  karya Irham Acho Bachtiar.   Tidak disangka  dalam hidup saya, bahwa saya bisa diijinkan Tuhan untuk menjejakan telapak kakiku di tanah itu.  Seperti sebuah mimpi di siang hari.
Saya sempat berpikir bahwa mungkin saya bisa menemukan rumah pohon dan komunitas suku Korowai yang masih menggunakan koteka. Namun saya tidak melihat  itu di ibukota distrik. Saya lalu bertanya pada salah satu petugas medis di sana, Dimana rumah pohon itu? Kata petugas medis itu,  rumah pohon hanya ditemukan di kampung-kampung yang letaknya sangat jauh dari ibukota distrik ini.  Sayapun kecewa karena saya hanya menjangkau kampung-kampung di dekat ibu kota distrik.
Namun ada hal-hal  menarik  yang saya dapati saat saya  mengunjungi beberapa kampung terdekat.  Saya menemukan beberapa kelompok perempuan yang duduk bersama dengan anak-anaknya sedang menambang batu kerikil untuk dijual ke kontraktor sebagai bahan bangunan. Tidak saya dapati seorang suami atau laki-laki yang membantu mereka selain anak-anak mereka. Hal ini membuat tergerak hati saya ingin bertanya dimana suami mereka? Sayapun bertanya kepada mereka. Jawab perempuan-perempuan itu, bapa ada di rumah? lalu saya bertanya, Bikin apa mereka di rumah? jawab perempuan-perempuan itu, Duduk-duduk saja di rumah. Ada  yang menjawab, bapa pamalas, tidak pernah bantu mama.
Ada juga yang bilang, bapa turun ke kota sudah 2 minggu karena lagi  urusan kampung.  wow!! dalam hatiku, hebatnya perempuan-perempuan ini. Dahulu mereka tidak bekerja sebagai penambang batu, tetapi kebutuhan pembangunan di Distrik mereka menuntut para perempuan ini harus menambah lagi satu daftar  aktivitas produksi mereka. Tanpa sadar, mereka bukan menjadi penikmat pembangunan, justru mereka menjadi korban dampak pembangunan di daerah mereka.
Mengapa tidak laki-laki saja yang bekerja sebagai penggali tambang batu? Tanpa sadar dampak pembangunan hanya menjadikan laki-laki sebagai penikmat pembangunan dari hasil istrinya. Dimana istrinya mendapat uang dari galian tambang namun uang tersebut dialokasikan untuk mencukupi kebutuhan keluarga termasuk suaminya, membeli rokok untuk suami, membeli baju untuk suami. Saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil berjalan pulang ke penginapan saya. Seandainya ada regulasi yang mengatur setiap  proyek  pembangunan masyarakat layak diprogramkan jika  ada kelayakan berdasarkan  analisis  gender seperti halnya mengalisis Amdal pada setiap proyek pembangunan. Maka mungkin dampak kelebihan beban kerja pada perempuan dapat dihindari karena  mewajibkan laki-laki  harus mengambil bagian dalam bekerja.
Masih dengan berbagai pertanyaan di benak saya, sayapun melangkah meninggalkan mereka menuju sungai Daeram. Selama dalam perjalanan, sayapun menemukan sekumpulan  perempuan-perempuan yang menggendong noken berisi hasil kebun dan menggendong anak yang masih balita. Sayapun berhenti dan sempat menanyakan mereka dari mana? dan apa yang sedang dipikul di dalam noken? Merekapun berkata kami dari kebun. Pertanyaan berlanjut, mama, dimana suami mama? sebuah jawaban yang sama, bapa ada di rumah!!! wow! untuk yang kedua kali hatiku tersentak. Hebatnya mama-mama ini, mengurus anak sambil berkebun dan sambil menokok sagu  untuk  kebutuhan makanan harian mereka.
Saat yang hampir bersamaan, saya membuang mata saya ke arah sungai, terlihat dalam pandanganku, seorang perempuan beserta anak-anaknya sedang mendayung perjalan-lahan melawan arus sungai menuju tepian sungai, ternyata ia baru pulang memancing. Saya segera berlari karena ingin membantu menurunkan anaknya yang masih kecil ke tepian sungai. Sambil menggendong anaknya yang kecil, saya bertanya,  ibu dapat ikan kah tidak? ibu itu menjawab, hanya ikan kecil-kecil 3 ekor, mungkin karena sungai  lagi kering tidak seperti biasanya. Sudah berapa jam ibu memancing? jawabnya, Dari pagi. Saya lalu lihat jam tangan saya  ternyata hampir 4 – 5 jam ibu ini memancing bersama anaknya. Karena anaknya menangis lapar, maka mereka memutuskan untuk kembali ke rumah mereka untuk menyiapkan makanan pokok mereka, yaitu sagu bakar sinoli.
Saya mulai duduk bersama para perempuan-perempuan ini. Pertanyaan yang sama saya lontarkan kepada mereka, namun saya mendapatkan jawaban yang sama.  Pikirku dalam hati, kalau suami tidak membantu mereka,  terus apa manfaat suami bagi mereka? Apakah mereka masih membutuhkan suami? Apa pandangan mereka tentang  suami sebagai penolong?  Pertanyaan itu saya sengaja lontarkan kepada para perempuan-perempuan itu. Sebuah jawaban yang mengagetkan tetapi sangat bermakna :  bapa pamalas, tidak tahu bantu mama… kalau bapa mati juga tdk papa krn bapa hidup itu bikin beban untuk mama. Lebih baik mama hidup sendiri dari pada harus cari makan untuk mereka terus, mama cape… karena bapa pamalas dan tdk kerja apa-apa, jadi yang bapa  pikir itu cuma pikir kawin baru saja. Ternyata ada beberapa suami mereka yang memiliki istri muda di rumah dan para mama-mama atau istri-istri tua ini yang bekerja. oh my god!!!!
Sadarkah mereka bahwa mereka dieksploitasi secara tidak  sengaja oleh suami mereka?  ekploitasi tanpa bayaran. Padahal dari jawaban mereka, tersirat makna kemandirian mereka. Mereka sudah siap hidup tanpa suami karena tidak ada ketergantungan hidup pada suami mereka. Namun mengapa mereka harus hidup dalam kekuasaan laki-laki dan tidak berdaya untuk memberontak? Ternyata nilai budaya telah menkonstruksi mereka untuk hidup dalam kekuasaan laki-laki walaupun sebenarnya mereka sangat mandiri.
Iklan

Kisah Pembuatan Paspor Online — RI32’s WEBLOG

Latar Belakang Artikel ini berisi pengalaman saya saat membuat Paspor, Dalam artikel ini akan saya sampaikan kendala-kendalanya, dan beberapa tips yang semoga bermanfaat untuk temen-teman yang akan membuat paspor secara online. Tahap Penginputan Data Paspor Online Untuk mengakses web https://ipass.imigrasi.go.id saya tidak dapat menggunakan browser Google Chrome karena ada warning Your clock is ahead. Jadi saya menggunakan browser Mozilla. Selama penginputan data […]

melalui Kisah Pembuatan Paspor Online — RI32’s WEBLOG

Paus, Ijinkan Perceraian dalam Katolik

Paus, Ijinkan Perceraian dalam Katolik

Sebuah pernyataan yang sangat mengejutkan dari Paus Francis, Pemimpin umat Katolik sedunia. Paus mengatakan bahwa “berpisah” dimungkin jika memang diperlukan secara moral. Maksudnya adalah Paus mengijinkan adanya perceraian dalam Katolik, jika hal tersebut tidak dapat lagi dihindari.

“Ada kasus di mana pemisahan tidak bisa dihindari,” kata Paus saat audiensi umum mingguannya, Rabu (24/6). Ia berharap ini akan menjadi pesan untuk mendorong kasih sayang yang lebih besar dalam Gereja menjelang pertemuan global gereja bulan Oktober mendatang.

Seperti diketahui, Katolik melarang adanya perceraian, karena kepercayaan yang mereka anut adalah,” Segala sesuatu yang sudah dipersatukan Tuhan, tidak dapat dicerai beraikan oleh manusia.” Dan sikap Paus Francis yang memberi sinyal dimungkinkannya perceraian terjadi diantara pemeluk umat Katolik menandai perubahan nada dalam sikap Gereja Katolik untuk pernikahan bermasalah.

“Kadang-kadang, bahkan dapat secara moral diperlukan, ketika itu tentang melindungi pasangan lemah atau anak-anak muda dari luka yang lebih serius yang disebabkan oleh kekerasan dan intimidasi, penghinaan dan eksploitasi,” katanya.

Masalah ini mungkin akan dibahas selama sinode – sebuah pertemuan uskup – mendatang. Paus Francis diharapkan akan membantu mendamaikan pemikiran Katolik dengan realitas kehidupan masyarakat di awal abad ke-21.

Sebuah perkawinan adalah perpaduan antara dua manusia menjadi sepasang suami istri yang mempunyai latar belakang serta kebiasaan yang berbeda. Perbedaan yang ditimbulkan dari pasangan itu sendiri maupun perbedaan dari latar belakang keluarga masing-masing pasangan.

Perkawinan sejatinya dapat dipertahankan hingga ajal memisahkan, namun terkadang dalam perjalanan hidup perkawinan itu sendiri timbul banyak persoalan yang tekadang jika perkawinan tersebut dilanjutkan akan timbul hal yang kurang baik, bahkan terkadang timbul adanya pertengkaran dan juga kekerasan fisik.

Jika telah terjadi hal seperti itu, maka perlu adanya peninjauan kembali apakah perkawinan tersebut perlu dilanjutkan. Jika perceraian adalah jalan terbaik untuk hubungan yang lebih baik, maka tidak ada salahnya kita mengambil langkah tersebut. Memang dampak buruk dari perceraian adalah kehidupan anak terseebut pasca perceraian orang tuanya. Namun tidak sedikit anak yang bahagia setelah orang tuanya bercerai. Mereka malah lebih rukun setelah perceraian.

Daripada bersatu dalam permusuhan, lebih baik berpisah dalam kebaikan.

Larangan Berenang Bersama Lumba-lumba di Hawaii

Larangan Berenang Bersama Lumba-lumba di Hawaii

Kini, wisatawan tak bisa lagi berenang bersama dengan lumba-lumba di lepas pantai Hawaii.

Larangan Berenang Bersama Lumba-lumba di HawaiiLumba-lumba paruh panjang (Stenella longirostris) berenang bersama penyelam di peraian Hawaii. NOAA memperingatkan bahwa berenang dengan lumba dapat menjadi bentuk pelecehan pada populasi lokal spesies, karena waktu istirahat hewan berkurang. (Kevin Dickinson/Thinkstock)

Kini, wisatawan tak bisa lagi berenang bersama dengan lumba-lumba di lepas pantai Hawaii karena larangan dari pemerintah.

Sebuah aturan baru yang diusulkan oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) bidang National Marine Fisheries Service melarang interaksi manusia dengan lumba-lumba paruh panjang Hawaii (Stenella longirostris) dalam jarak 50 yard. Peraturan tersebut dimaksudkan untuk melindungi lumba-lumba selama masa kritis, serta melindungi mereka dari interaksi yang berpotensi stres bersama paraa turis.

Spesies lumba-lumba ini aktif di malam hari. Mereka mencari makan di perairan dalam, kembali pada siang hari ke dekat pantai untuk beristirahat (Waktu yang sama saat wisatawan memulai kegiatannya di laut). Lumba-lumba ini juga memelihara anak mereka, dan berpartisipasi dalam perilaku sosial lainnya. S.longirostris dikenal sangat energik, mereka menampilkan lompatan ke udara yang mengesankan.

Jika manusia dibiarkan terus melakukan pertemuan di dekat kawanan lumba-lumba, peneliti khawatir spesies terancam secara tak langsung.

Jika manusia dibiarkan terus melakukan pertemuan di dekat kawanan lumba-lumba, peneliti khawatir spesies terancam secara tak langsung. NOAA memperingatkan bahwa berenang dengan lumba dapat menjadi bentuk pelecehan pada populasi lokal spesies, karena waktu istirahat hewan berkurang

“Wisatawan harus mengubah keinginannya, untuk berenang dengan lumba-lumba. Cukup dengan melihat lumba-lumba saja dan tidak berenang dengan lumba-lumba liar,” jelas Ann Garrett perwakilan dari NOAA.

Badan ini juga mengumumkan potensi rencana masa depan yang akan memberlakukan pembatasan waktu di teluk untuk melindungi habitat spesies kala siang hari.

“Orang-orang menangkap lumba-lumba dengan tongkat selfie,” ujar Victor Lozano, pemilik Wisata lumba-lumba di Oahu.

Anda dapat melihat gambaran para wisatawan yang mendekati lumba-lumba dalam video di bawah.

(K.N Rosandrani / mnn.com, phys.org)

Peneliti Klaim Memiliki Rekaman Percakapan Lumba-lumba

Peneliti Klaim Memiliki Rekaman Percakapan Lumba-lumba

Para peneliti mengklaim telah merekam percakapan yang terjadi antara dua lumba-lumba di kolam pusat penelitian Karadag Nature Reserve, Crimean.

Peneliti Klaim Memiliki Rekaman Percakapan Lumba-lumbaObservasi yang dilakukan menunjukkan bahwa lumba-lumba menghasilkan bunyi yang berbeda-beda dalam situasi berbeda. (Peak Mystique/Thinkstock)

Pertanyaan mengenai benar atau tidaknya lumba-lumba memiliki bahasa mereka sendiri untuk berkomunikasi masih dipertanyakan sejak lama, dengan banyak orang yang mempercayai bahwa hewan tersebut memiliki kecerdasan untuk dapat melakukan kemampuan itu.

Namun untuk membuktikannya, para peneliti memiliki sedikit kesulitan. Melihat kondisi hewan tersebut yang seringkali melakukan perjalanan jarak jauh, melakukan komunikasi dengan bunyi yang kita dengar, dan bersosialisasi dengan kelompok besar membuat perekaman suara menjadi lebih sedikit sulit.

Akhirnya penelitian pun tetap dilakukan dengan mempelajari lumba-lumba yang ada di pusat penelitian Karadag Nature Reserve yang berada di Krimea, Kota Feodosia. Para peneliti tersebut mengklaim telah merekam percakapan yang terjadi antara dua lumba-lumba di sana.

Sepasang lumba-lumba itu bernama Yana dan Yasha. Mereka menempati sebuah kolam di tempat tersebut dan memudahkan para peneliti untuk mendengarkan dengan seksama komunikasi yang terjadi di antara keduanya. Mereka percaya bunyi yang teratur, bunyi klik, dan siulan menggambarkan bagaimana kedua hewan itu membentuk kalimat dan melakukan percakapan.

“Eksperimen kami menunjukkan bahwa lumba-lumba berperan untuk memproduksi bunyi dan tidak memotong percakapan satu sama lain. Hal itu memberikan alasan bahwa lumba-lumba tersebut mendengarkan sebelum menghasilkan kata-kata yang hendak mereka sampaikan,” tulis Dr Vyacheslav Ryabov, penulis utama makalah yang dipublikasikan dalam jurnal Mathematics and Physics.

Mereka melakukan observasi dengan melihat bagaimana kedua lumba-lumba itu berada dalam jarak satu meter. Peneliti melihat lima vokalisasi berbeda yang kuat keluar bersamaan dari satu lumba-lumba, sebelum menunggu lumba-lumba yang lain memberikan respon.

Observasi yang dilakukan menunjukkan bahwa lumba-lumba menghasilkan bunyi yang berbeda-beda dalam situasi berbeda. Tak hanya itu, ditemukan pula fakta bahwa hewan tersebut memiliki tanda siulan sendiri. Hal itu terjadi tak lama setelah kelahirannya, dan beberapa ilmuwan berpendapat bahwa lumba-lumba memiliki namanya masing-masing.

Meskipun rekaman tersebut menjadi kontroversial, namun peneliti menganggap bahwa masalah ini cukup penting untuk diteliti. Hal tersebut diharapkan akan mampu membangun jembatan bagi manusia dan lumba-lumba untuk berkomunikasi.

(Annisa Hardjanti / sumber: Josh Davis / IFLScience.com)

The Wonder of You: Elvis Presley with the Royal Philharmonic Orchestra — Music of Our Heart

Ever since we visited Graceland in Memphis, Tennessee last year I have a newfound respect for Elvis Presley. He is the man who changed the course of popular music as the biggest selling solo artist in music history (having sold an astonishing one billion records worldwide!). A new Elvis Presley Album, The Wonder Of You: […]

melalui The Wonder of You: Elvis Presley with the Royal Philharmonic Orchestra — Music of Our Heart