Banyak Pencitraan, Tidak Ada Hasil Kerja Jokowi Di Papua

 

Natalius Pigai/Net
Jakarta – Tokoh nasional asal Papua Natalius Pigai kembali menegaskan tidak ada yang diperbuat Presiden RI Joko Widodo di tanah Papua.
“Sudah berkali-kali saya katakan, di bawah kepemimpinan Jokowi ini banyak pencitraan dan pembohongan terjadi di Papua,” ujar Natalius kepada redaksi, Selasa (19/12).

Komentar Natalius ini menanggapi pernyataan tokoh agama di Papua, Pastor John Djonga yang menyebutkan, kebijakan BBM satu harga di Papua belum berjalan dengan baik. Harga BBM hanya turun seperti di Jawa, saat Jokowi blusukan ke Papua.

“Pater Jhon Jonga adalah seorang rohaniawan penerima penghargaan sebagai pembela kemanusiaan: Ramon Mang Say Say Award. Ini suara resmi tokoh-tokoh Papua,” kata Natalius.
Dia pun mengaku sudah berkali-kali meminta bukti apa yang telah dilakukan Jokowi di Papau.
“Saya sudah minta tunjukkan kepada saya dua gedung/rumah hasil pembangun Jokowi di Papua. Ini pekerjaan sekelas Bupati saja tidak ada, apalagi yang lain,” terang Natalius.
Dilanjutkannya, jalan dan jembatan di Papua dibangun dengan proyek rutin dan oleh pemprov sendiri, bukan dari Jokowi.
“Tidak ada hasil kerja Jokowi di Papua. Hanya sekedar pencitraan dan pencitraan,” pungkas Natalius. [rus]
Iklan

Hak Dasar Rakyat Papua Masih Diabaikan

Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari, Yan Christian Warinussy
(kedua dari kiri) – Jubi/Ist
Dogiyai – Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, menilai hak-hak dasar rakyat Papua masih diabaikan. LP3BH mencatat sepanjang 10 tahun sejak 2007 hingga 2017 sejumlah hak dasar rakyat Papua, seperti kebebasan berpendapat dan berekspresi serta berkumpul dan berserikat  sama sekali tidak berjalan dan senantiasa diabaikan.
“Padahal hak tesebut telah dijamin pasal 28 UUD 1945, tapi tidak diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di atas Tanah Papua sebagai tanah pusaka dan tanah air OAP,” kata Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari, Yan Christian Warinussy, Kamis, (4/1/2018).
Ia menyebutkan di awal tahun 2018 ini OAP senantiasa menjadi korban tindakan kekerasan yang sifatnya kejahatan terhadap kemanusiaan dan menjurus kepada kejahatan genocida. “Seringkali hanya persoalan salah paham atau bertengkar mulut yang berujung pada pada terjadinya penganiayaan dan  penembakan secara brutal,” kata Yan menambahkan.
LP3BH  mencatat berbagai upaya sistematis yang dilakukan oleh Negara dengan mengabaikan hak-hak dasar masyarakat adat Papua dan OAP atas sumber daya alam di yang jelas-jelas dilindungi dalam Pasal 43 UU nomor 21 tahun 2001.
“Bahkan makin diperkuat dengan adanya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35 Tahun 2015 yang mengakui dan memperkuat hak masyarakat adat atas hutan,” katanya.
Masyarakat adat senantiasa berada pada pihak yang kalah dan termarginalisasi dari sumber daya alam (SDA) yang dimiliki. Ia menyebutkan kasus pengolahan bahan galian tambang terjadi di Distrik Topo, Nabire dan Kampung Nifasi, Kabupaten Nabire.
Kondisi itu menjadi dsar LP3BH terus berupaya membangun kesadaran hukum pada kelompok  masyarakat adat yang termarginalisasi di tanah Papua.
“Tetap akan terus mendorong upaya penyelesaian berbagai kasus pelanggaran HAM yang berat di tanah Papua pada dunia internasional,” katanya.
Langkah itu dilakukan dengan mekanisme hukum internasional di bidang perlindungan HAM yang berlaku secara universal.
Mantan Komisioner Komnas HAM 2012-2017, Natalius Pigai, meyakini persoalan HAM akan mengganjal karier politik Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo yang ingin maju mencalonkan kembali sebagai presiden pada tahun 2019
“Ini  menjadikan Jokowi tidak mendapat dukungan dari keluarga korban, juga aktivis kemanusiaan, NGO kemanusiaan juga Komnas HAM bahkan masyarakat Indonesia dan internaisonal,” kata Natalius Pigai. (*)

Indonesia hambat akses komisi HAM PBB ke Papua

 

Aksi gabungan dari berbagai elemen di Abepura,
Papua tuntut kasus Paniai Beradarah diselesaikan
-Jubi/Abeth You
Paniai – Indonesia dinilai menghambat akses komisi hak azasi manusia (HAM) dari persatuan bangsa bangsa  ke Papua. Hal itu dibuktikan rencana kehadiran anggota HAM PBB,  Zaid Ra ad Al Hussein, yang akan berkunjung ke Indonesia, Minggu, hingga Rabu, 4 hingga 7 Februari 2018.
“Hanya bertemu para pemangku kepentingan di Jakarta saja, padahal perkembangan yang ada, isu utama mengenai dugaan pelanggaran HAM berat dilakukan negara terhadap Orang Asli Papua (OAP),” kata Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Yan Christian Warinussy, dalam siaran persnya, Kamis, (1/2/2018).
Ia menilai Papua yang mendapat sorotan luar biasa dari berbagai negara di dunia, khususnya di kawasan Pasifik dalam kurun lima tahun terakhir ini justru diabaikan. “Saya menduga pemerintah Indonesia telah membatasi akses bagi petinggi PBB urusan HAM tersebut,” kata Warinussy, menambahkan.
Menurut dia, seharusnya wakil HAM dari PBB itu berkunjung langsung ke tanah Papua sebagai zona pelanggaran HAM yang berat di Indonesia. Ia menyebutkan fakta berbagai tindakan pelanggaran HAM berat telah terjadi di tanah Papua semenjak wilayah  itu diintegrasikan melalui proses politik.
Tercatat sejumlah kasus dugaan pelanggaran HAM berat seperti Sanggeng 2016, Dogiyai, Asmat serta Nifasi hingga sekarang belum diinvestigasi sesuai amanat undang-undang  39 tahun 1999.
“Saya sangat menyesalkan tindakan pembatasan ini. Kami duga keras telah dilakukan oleh Pemerintahan Presiden Jokowi, sehingga Zaid Ra ad Al Hussein sama sekali tidak bisa datang ke tanah Papua,” katanya.
Anggota Komisi I DPR Papua, Laurenzus Kadepa, mengharapkan anggota komisi tinggi HAM PBB  berkunjung ke tanah Papua. “Saya  minta kepada DPR Papua, MRP dan eksekutif  berkordinasi dengan Pemerintah Pusat menghadirkan Zaid Ra’ad Al Hussein.
Menurut dia, rakyat Papua khususnya korban HAM ingin bertemu langsung, agar Zaid Ra ad  dapat melihat fakta yang sebenarnya terjadi. “Kalau di Jakarta bertemu Presiden dan kementerian terkait kurang berbobot. Terutama soal Papua,” katanya. (*)

5000 Jiwa di Distrik Waan Kelaparan, Kini Terpaksa Makan Kulit Kayu

Kondisi salah satu kampung di Distrik Waan Merauke akibat diterjang banjir rob, warganya kini terancam kelaparan. (KabarPapua.co/Abde Syah)

KABARPAPUA.CO, Merauke – Kurang lebih 5000 jiwa warga di Distrik Waan, Kabupaten Merauke mulai kekurangan pangan dan kelaparan. Bahkan kini ada yang terpaksa makan kulit kayu, guna mengganjal dan mengisi perut mereka. Tak kalah perihnya, anak-anak mereka kini terserang penyakit diare dan penyakit lainnya, pasca diterjang banjir rob.

Banjir rob ini akibat naiknya air laut menggenangi daratan. Biasa terjadi di daerah lebih rendah dari muka air laut. “Banjir rob yang menerjang daerah Distrik Waan dua kali, yakni gelombang pertama pada 5 Januari 2018 dan gelombang kedua pada 27-31 Januari 2018,” kata salah satu pemerhati pendidikan di Merauke, Dominikus Ulukianan kepada KabaPapua.co di Merauke.Menurut Dominikus, kondisi warga di 11 kampung yang terdampak banjir rob di Distrik Waan sudah sangat memprihatinkan. “Banyak yang sudah eksodus ke beberapa tempat, seperti ke Distrik Kimaam dan Kota Merauke menggunakan speed boat dan belang,” ungkap mantan guru di Distrik Kimaam ini.

Seorang anak berenang di banjir rob yang menerjang kampungnya di Distrik Waan Merauke, kini mereka terancam sakit diare. (KabarPapua.co/Abdel Syah)

Dominikus juga mengatakan, banjir rob yang menerjang pemukiman warga pada 11 kampung ini terjadi sejak 5 Januari 2018 lalu. “Saya barusan dari sana, kondisinya sangat memprihatinkan. Memang ada bantuan lima ton beras dari pemerintah daerah, tapi itu tak cukup. Warga masih butuh bantuan bahan makanan dan medis,” ujarnya.Dominikus menambahkan, dari 11 kampung yang terdampak parah oleh banjir rob, ada tiga kampung yang paling sangat parah, yakni Kampung Gladar, Kampung Tor dan Kampung Sabon. “Berbagai macam pertanian hancur. Tak ada yang bisa dimakan warga, hanya bertahan hidup seadanya. Bahkan kini warga makan kulit kayu,” ujarnya.

Selama ini, kata Dominikus, kehidupan perekonomian 5000 lebih kepala keluarga di daerah ini hanya mengandalkan menjual hasil laut, seperti ikan. Namun belakangan hasil tangkapan ikan mereka terkendala pembeli. “Saya tak bisa berkata-kata melihat kondisi warga di sana. Sungguh sangat memprihatinkan,” katanya sedih. ***(Abdel Syah)

Ujung Tombak Desa Itu Bernama Internet — Toska.id

Bagi masyarakat perkotaan, internet bak air di musim hujan. Namun, bagi masyarakat di pedalaman, internet bisa jadi menentukan nasib kehidupan seseorang, bahkan sebuah lingkungan. Mewah sekaligus vital. Itulah sarana internet bantuan BP3TI Kemenkominfo di pedalaman Indonesia.

melalui Ujung Tombak Desa Itu Bernama Internet — Toska.id

Gunung Timau NTT, Pusat Sains Antariksa Terbesar Di Asia Tenggara! — Mysterious Thing • Conspiracy • Controversy • UFO & Alien • Archeology • Science • Universe • • • • • • • • • • • •

Gunung Timau di Nusa Tenggara Timur: Akan Jadi Pusat Sains Antariksa Terbesar Di Asia Tenggara! LAPAN atau Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Indonesian National Institute of Aeronautics and Space) bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung, Universitas Nusa Cendana, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pemprov NTT dan Pemerintah Kabupaten Kupang akan membangun sebuah kompleks Observatorium Nasional Timau […]

melalui Gunung Timau NTT, Pusat Sains Antariksa Terbesar Di Asia Tenggara! — Mysterious Thing • Conspiracy • Controversy • UFO & Alien • Archeology • Science • Universe • • • • • • • • • • • •

Wajib Anda Ketahui, Ini 5 Kelebihan yang Hanya Dimiliki Mama Papua

By 10:15:00
http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://www.dihaimoma.com/2017/05/wajib-anda-ketahui-ini-5-kelebihan-yang.html&layout=standard&show_faces=false&width=100&action=like&font=tahoma&colorscheme=light

Dalam kehidupan, mama sangat berjasa dalam membesarkan dan mendidik manusia. Tanggung jawab dan peran mama berlangsung sejak kita dalam kandungan sampai dengan kita dewasa. Bukan hanya itu, saat ini bebagai penelitian telah menunjukan bahwa pengaru genetik mama lebih besar dalam diri seseorang dari pada bapak. Itulah sebabnya, terkadang mama menjadi tokoh paling dikasihi selain bapak dalam sebuah keluarga. Pada dasarnya semua para mama di dunia memiliki keistimewaan yang sangat dikagumi oleh anak-anaknya. Satu-satunya malaikat wakil Tuhan yang dapat kita temui di bumi ini adalah Mama.

Di Papua, mama Papua menjadi indikator utama penentu berkembang atau tidaknya generasi Papua. Peran dan tanggung jawab mama Papua bukan hanya soal apa yang menjadi kodrat seorang Ibu rumah tangga tetapi lebih dari itu. Saat ini mama Papua bertanggungjawab atas berbagai hal yang mungkin melebihi mama lain di dunia ini. Kelebihan yang hanya dimiliki mama Papua inilah yang membuat Dihai berbagi 5 kelebihan mama Papua dalam artikel ini.

1. Mengembangi peran ganda dalam kehidupan rumah tangga
Dihaimoma Menulis
Sumber Foro:agustinuswibowo.co
Peran mama Papua bukan hanya menjalankan tanggung jawab yang menjadi kodrat seorang ibu rumah tangga. Ia harus menggarap kebun yang notabenenya berjarak ratusan kilo meter dari rumah dengan berjalan kaki. Menjual hasil kebun tersebut untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier dalam keluarga. Itu kalau mama Papua di wilayah Gunung Papua. Mama Papua di wilayah Pantai, ia harus mendayung perahu untuk memancing ikan, tokoh sagu, menggarap kebun dan menjual hasilnya di pasar.

Setelah pulang mengerjakan hal-hal di atas, ia harus masak dan menyediakan makanan untuk keluarga yang terkadang belasan orang dalam serumah. Orang Papua kental dengan hirarki kekeluargaan. Hal itu membentuk mereka untuk tinggal bersama dalam satu rumah. Mama Papua harus mampu menyanggupi kebutuhan makan dan minum bagi belasan orang. Hal ini tidak seperti daerah manapun yang dalam satu rumah hanya dihuni 3 samapi 5 orang. Selain itu, ia harus membiayai anak-anaknya untuk mengenyam pendidikan.

Satu hal yang pasti dalam persoalan makan dan minum, mama Papua sama sekali tidak pernah hitung-hitungan. Kecuali soal bekerja.
2. Tidak Pernah mengeluh dalam mengerjakan tanggung jawabnya
Meski mengembangi berbagai tanggung jawab, mama Papua jarang sekali mengeluh. Pekerjaan-pekerjaan itu menyatuh dalam pribadi mama Papua dan membentuknya menjadi rutinitas yang wajib ia lakukan. Artinya, ia tahu dan paham bahwa semua itu dilakukan atas kesadaran akan kebutuhan dalam keluarga. Bukan atas paksaan apa lagi tekanan dan mengejar imbalan.

Cobah saja jika mama Papua suka mengeluh dan pandai mengoperasikan media sosial seperti cewek-cewek Papua saat ini! Berapa juta status yang akan berhamburan pada dinding media sosialnya. Mama Papua tetaplah yang terbaik dalam kesabaran dan keibuannya.

Mama Papua juga tidak pernah meminta ini dan itu. Ia mengerjakan apapun sebagai bagian dari tangung jawabnya. Kekuatan jiwa dan fisik yang menyatuh bersamanya membentuk Mama Papua sebagai sosok mama yang patut dikagumi. Lagu tentang ibu, memberi tanpa mengharap kembali merupakan bagian yang benar-benar melekat pada sesosok Mama Papua dan hal itu bukan hanya berlaku dalam keluarganya tetapi juga untuk orang lan. Kasih, merupakan kata yang identik dengan mama Papua.
3.Mendidik anak menjadi manusia dewasa, bukan pendendam dan main perasaan
Ketika melihat dikekinian kita akan menemukan manusia-manusia yang cepat ngambek. Disindir sedikit, langsung ngambek. Anda harus tahu di Papua terdapat ratusan bahkan ribuan masalah yang ribuan kali lipat lebih besar dari masalah-masalah di kota lain. Luar biasanya, meskipun kadang tegan dan harus meminta nyawa, masalah itu tidak pernah berlajut sampai berbulan-bulan.

Kasih sayang yang identik dengan mama Papua membentuk generasi yang spontan, apa adanya, dan transparan. Hal semacam ini terlihat ketika ada masalah antara orang Papua sendiri. Kebanyakan masalah hanya bisa ditangani secara kekeluargaan atau hukum adat. Selain itu, orang Papua itu selalu tampil apa adanya dalam memosisikan diri.

4. Mama Papua paham bahwa bahagia itu sederhana. Apa yang ada hari ini kita nikmati dan besok kita akan cari lagi. Bukan menampung kekayan sebanyak-banyaknya yang juga pada ujungnya turut menciptakan masyarakat kapital, kaya terus kaya dan yang miskin terus miskin.
Dihaimoma Menulis
Sejak kecil mama Papua tidak pernah mengajari anaknya untuk menyimpan kekayaan tetapi memberi dan berbagi. Kasih adalah kekayaan utama dalam benak mama Papua. Itulah sebabnya jangan heran ketika anda ke Papua anda akan sulit membedakan antara orang Papua yang kaya dan yang miskin.
Ya, rata-rasa generasi Papua sama. Mungkin ini yang disebut orang sosial dengan masyarakat agraris, yang ada pakai dan kalau habis kita ambil lagi di alam. Alam Papua itu kaya, jangan anda hitung-hitungan soal makan minum. Sayangnya, kebudayan ini sering dipandang konsumtif dan tidak produktif. Salah satunya, Jusuf Kalla yang pernah mengatakan itu pada tahun 2012 lalu.
“Jadi, pusat menyubsidi Papua kurang lebih Rp 14 triliun per tahun. Jadi, jangan anggap tidak adil pusat ke Papua. Politik luar biasa dikasih kekuasaan, ekonomi luar biasa dikasih. Apa yang terjadi? Budaya konsumtif Papua terlalu tinggi dan budaya produktif terlalu rendah. Orang Papua merasa tidak sejahtera.
“Teman-teman kita di Papua produktivitas rendah karena kebutuhannya sedikit. Dengan baju sederhana, makan sederhana cukup. Minta maaf, tiap awal bulan minumnya (minuman keras) banyak. Korupsinya juga tinggi di Papua”
Soal mabuk memang benar, beberapa orang Papua suka Mabuk tatapi ingat tidak semua orang Papua suka mabuk. Selain itu, satu hal yang JK tidak paham adalah masyarakat agraris di Papua justrus menjaga keseimbangan alam di Papua. Masyarakat Papua tidak mengambil hasil alam melebihi kebutuhan mereka dan menyimpannya sisanya di alam. Mama Papua mengajari anak-anaknya tidak seperti kampitalisme yang menganut perlunya menyimpan kekayaan untuk tujuh generasi mendatang, sehingga menciptakan kelas kaya dan miskin di masyarakat.
Justru dari budaya kapital tabung menabung tujuh turunan, dan memanfaatkan alam sebanyak-banyaknya demi dan untuk memuaskan keinginan melalui perusahaan-perusahaan inilah yang menjadi wabah dalam kehidupan masyarakat agraris, khususnya Papua.
Mama Papua paham alam adalah tempat mengambil dan menyimpan kekayaan yang utuh dan adil bagi keluarga dan anak cucunya. Jadi akan lebih sesuai jika masyarakat perkotaan yang merasa miskin dan kurang cukup yang hidup kebudayaan tabung menabung tuju turunan tetapi dalam konteks Papua sistem ini nampaknya kurang singkron dengan kebiasaan masyarakatnya. Dengan demikian kesalahan pak JK terletak pada paradikma yang menyamakan kehidupan ibu kota dengan  kehidupan masyarakat agraris.
5. Jiwa Mama Papua yang tangguh membentuknya menjadi pribadi yang mampu mengampuni tanpa dendam dan benci. Ia tahu, kasih sayang itu harus mampu berkorban.Tidak ada satupun yang disebut kasih tanpa mengasihi dan memberi dengan tulus.
 
Dihaimoma Menulis
Sumber foto: .papua.us
Pada tahun 2012 komnas Perempuan mencatat Papua menempati posisi tertinggi dalam kasus kekerasan terhadap perempuan. Jumlahnya mencapai 1.360 kasus untuk setiap 10.000 perempuan. Dan rata-rata kekerasan itu terjadi dalam kehidupan rumah tangga.
Satu hal yang selalu identik dengan mama Papua adalah kesabaran dan cinta kasih yang mampu membentuknya menjadi pribadi yang sanggup memaafkan dan mengasihi. Coba anda perhatikan, meskipun mama Papua kadang dipukuli dengan cara yang tidak manusiawi, keesokan harinya ia akan melakukan aktivitasnya tanpa beban. Semua itu dilakukan bukan untuk siapa dan apa, tetapi hanya satu keinginannya. Supaya ikatan keluarga, tetap utuh  dan padu untuk selamanya.

Dengan demikian itulah 5 poin kelebihan yang hanya dimiliki Mama Papua yang Dihai dapat berbagi pada artikel kali ini. Jika ada yang perlu ditambahkan, tinggalkan pada kolum komentar di bawah ini. Terima kasih,

Beberapa Sumber bacaan:
[1]Antara news.com online, edisi selasa, 21 Mei 2013. Papua tertinggi dalam kasus kekerasan terhadap perempuan. Diaksese pada pukul  4.12 wib.
[2]Kompas online, edisi 16/07/2012. JK: Turunkan Budaya Konsumtif di Papua. Diaksese pada pukul  4.12 wib.