Suku Momuna: Berburu, meramu dan kepercayaan

Orang Momuna sejak dulu sudah memiliki keyakinan dan kepercayaan sendiri soal penciptaan terutama Allah pencipta.
Masyarakat suku Momuna Yahukimo-Jubi/Piter Lokon.
Piter Lokon
piter@tabloidjubi.com
Editor : Edho Sinaga

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Yahukimo, Jubi – Suku Momuna memiliki kesamaan dengan masyarakat Korowai terutama model rumah atau rumah pohon. Orang Momuna menyebut rumah pohon atau rumah tradisional  mereka, dengan nama “Buku Subu”. Seperti apa kisahnya? Berikut jurnal yang telah tayang di Koran Jubi, karya Piter Lokon.

***

Masyarakat suku Korowai, tersebar di tiga wilayah administrasi: Boven Digoel, Mappi, dan Asmat. Sementara suku Momuna, tersebar di dataran rendah kota Dekai, Yahukimo.

Namun  sejurus perkembangan zaman, kini masyarakat suku Momuna sudah jarang lagi tinggal di rumah pohon. Mereka sudah tinggal di rumah biasa, hasil bantuan sosial pemerintah Kabupaten Yahukimo. Walau demikian, upaya untuk membangun “Buku Subu” tetap dilakukan guna menarik turis lokal dan nusantara untuk berkunjung ke kampung mereka di Dekai, ibukota Kabupaten Yahukimo.

Orang Momuna sejak dulu sudah memiliki keyakinan dan kepercayaan sendiri soal penciptaan terutama Allah pencipta.

“Kami tidak percaya kepada pohon atapun kali, kami meyakini bahwa ada yang menciptakan kami,” kata Kepala Suku Besar Momuna Ismail Keikera kepada Jubi belum lama ini di kediamannya.

Lebih lanjut dia menambahkan, ada yang menciptakan dan tentu pemilik ciptaan itu pasti ada, sehingga ada tempat keramat atau tempat penghuni.

“Kami percaya bahwa orang yang berkuasa ada, sehingga kami tidak menyembah pohon atau kali dan kepada apapun. Dulu itu ada hanya tempat keramatlah atau larangan-larangan dari nenek moyang sampai generasi kami sekarang begitu,” kata Keikera menambahkan.

Ia mencontohkan pada pohon, ada larangan orang tua bahwa kayu merah atau dengan bahasa Momuna disebut “koweni“ jangan ditebang atau disentuh, sebab jika menyentuh ataupun memotong pasti bisa menjadi gila.

“Jadi kita lihat orang banyak yang seperti gila meronta-meronta di rumah sakit itu bukan karena apa, itu mereka sentuh pohon Koweni, kalo kami kena tidak perlu kerumah sakit tetapi tinggal tiup sebentar saja sudah sembuh,”katanya.

Dia menambahkan, sudah bertemu sebanyak lima warga yang meronta-ronta seperti orang gila.

“Dokter sudah ikat kaki dan tangan tetapi orangnya tetap saja meronta jadi dorang ada ganggu dia, saya sudah temukan sudah lima kali,” kata Ismail.

Walau demikian Ismail menambahkan, suku Momuna belum pernah memberikan penyembahan kepada pohon, batu atau kali.

“Tetapi kami menyembah kepada Potmadito (Allah) Pencipta yang menguasai langit dan bumi. Jadi ternyata cerita Alkitab juga sama tidak ada perubahan, sehingga kami percaya bahwa Allah pencipta ada,” katanya.

Dia menegaskan jadi tua-tua itu menjadi kepala suku menurut silsilah yang mereka anut.

“Kalau dilihat dari pembuangan Babel jadi kami jelas, di mana pembuangan babel kita yakini Allah yang sama,” ucapnya.

Kepercayaan kepada Allah pencipta, membuat masyarakat Momuna sangat dekat dengan alam dan lingkungan mereka. Hingga tak heran kalau mereka selalu mempertahankan hidup dengan mencari ikan atau dalam bahasa Momuna disebut Ci, menokok sagu atau (Mbi) dan Mate atau ubi hutan sudah menjadi makan pokok sehari-hari dari orang Momuna.

Selain itu, orang Momuna juga berburu hasil hutan, seperti babi hutan, burung Kasuari, buaya, kura-kura dan lain sebagainya. Setiap kali berburu selalu dibekali dengan sagu, baru bisa mencari daging atau burung dan ikan.

Umumnya orang Momuna mengenal Ubi Gubu atau Matei dalam bahasa Momuna mulai dikenal setelah misionaris datang membawa turun Injil ke Dekai.
Meramu dan berburu

Sejak dulu orang tua selalu hidup berpindah-pindah, kata Ismail. Karena ketika sumber makanan habis, maka mereka harus pindah dan membuka kebun baru lagi.

Para antropolog menyebutkan, ada tiga macam kehidupan nomaden, yaitu sebagai pemburu-peramu (hunter-gatherers), penggembala (pastoral nomads), dan pengelana (peripatetic nomads).

Berburu-meramu lanjut pakar antropolog adalah metode bertahan hidup yang paling lama bertahan dalam sejarah manusia, dan para pelakunya berpindah mengikuti musim tumbuhan liar dan hewan buruan. Rotasi perladangan berpindah-pindah itu akan berlangsung selama 20 tahun dan masyarakat adat akan selalu kembali ke lokasi semula untuk berkebun karena sudah subur.

Perladangan berpindah-pindah sebenarnya sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Jika kesuburan lahan mulai berkurang mereka akan membiarkan lahan itu (follow of period) untuk memperbaiki siklusnya dan ini sangat berbeda ketika menerapkan pertanian menetap, karena lahan-lahan tropis tak selamanya subur jika tak diberi pupuk.

Antropolog Indonesia Prof Dr Subur Budi Santoso dalam penelitiannya mengatakan, etos kerja dari masyarakat peramu dan pemburu sangat kuat untuk mencapai hasil sebaik mungkin tanpa harus merusak lingkungan, sebagai pola-pola pengembangan adaptasi manusia.

Makanan pokok orang-orang Momuna sejak dulu sagu dan ubi-ubian tetapi sagu adalah makanan pokok masyarakat setempat.

“Tidak  ada sagu juga orang bisa lemah, tetapi sekarang ini baru ada nasi,” kata Kepala Suku besar Momuna.

Menurut dia tak boleh sembarang orang menebang sagu, karena itu makanan pokok orang asli Momuna, jika ditebang jelas membunuh orang Momuna.

“Siapapun yang tebang sagu dendanya bisa sampai Rp50 juta , jangan macam-macam karena itu makanan pokok kami orang Momuna, karena ini sama saja membunuh satu orang nyawa,” katanya.

Dia tak memungkiri kalau pemerintah juga pernah memberikan beras miskin atau beras sejahtera yang diterima dari Pemerintah Yahukimo melalui PD Irian Bhakti dan diserahkan kepada aparat desa.

“Kami berharap kedepan melalui desa bisa dapat beras perbulan sebagai warga negara Indonesia,” kelakarnya.(*/Mampioper)

Iklan

Hutan kerap dirambah, sumber air akan rusak

Menurutnya, apa pun upaya yang dilakukan menjaga kawasan sumber air sulit terwujud, jika tidak ada kesadaran masyarakat.
Gunung Cycloop (Siklop) yang membentang dari Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura, dulunya menjadi daerah tangkapan air. Kini sebagian besar kawasan Cycloop telah rusak – Jubi/Arjuna.
Arjuna Pademme
harjuna@tabloidjubi.com
Editor : Edho Sinaga

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Aktivis Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG), Dian Wasaraka mengatakan, pemerintah dan pihak terkait harus terus menyosialisasikan dan menyadarkan masyarakat pentingnya menjaga hutan, terutama daerah tangkapan air.

Menurutnya, apa pun upaya yang dilakukan menjaga kawasan sumber air sulit terwujud, jika tidak ada kesadaran masyarakat. Katanya, sebelum pihak terkait mengambil tindakan, yang harus gencar dilakukan terlebih dahulu yakni melakukan sosialisasi dan memperingatkan masyarakat.

“Contoh kasus, di daerah Sky Land beberapa waktu lalu. Sempat ada yang ditangkap karena menebang kayu untuk membuat arang. Tapi tetap saja dorang (mereka) melakukan hal yang sama kembali,” kata Dian Wasaraka kepada Jubi, Rabu (14/3/2018).

Kata Dian, ini karena belum ada kesadaran dari masyarakat. Saat merambah hutan, masyarakat selalu beralasan demi memenuhi kebutuhan hidup.

“Yang ditangkap satu, tapi masih ada sembilan lainnya yang melakukan aktivitas serupa,” ujarnya.

Kasus lain lanjutnya, terjadi di Koya Koso, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. Di wilayah itu Dinas Kehutanan Papua membeli hutan primer untuk dijadikan taman hutan rakyat (tahura) dan mulai dipersiapkan sejak 2013-2015. Namun akhir 2015, area yang sudah dipersiapkan Dinas Kehutanan itu, dirambah oleh masyarakat non Papua yang bermukim di sekitar lokasi.

“Di situ ada lima jenis burung predator, ternyata masyarakat babat. Alasannya sudah ada izin dari kepala suku pemilik ulayat, kita mau bilang apa. Jadi kesadaran masyarakat yang harus ditingkatkan,” ujarnya.

Legislator Papua, Nioluen Kotouki berpendapat sama. Menurutnya, masyarakat Papua harus terus diingatkan pentingnya menjaga hutan apalagi kawasan yang dilindungi.

“Pemerintah dan semua pihak yang peduli keberlangsungan lingkungan, perlu terus sosialisasi dan mengingatkan masyarakat,” kata Kotouki.

Menurutnya, pemerintah juga perlu memanggil para pemilik ulayat kawasan yang dilindungi membuat komitmen bersama agar daerah tangkapan air terus dijaga.

“Harus kerjasama dengan pemilik ulayat, agar mereka ikut berperan menjaga kawasan yang dilindungi,” ujarnya. (*)

*Catatan: Berdasarkan PP No. 38/2011 tentang SungaiDaerah Tangkapan Air (DTA) adalah suatu kawasan yang berfungsi sebagai daerah penadah air yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sumber air di satu wilayah atau daerah.

Sampah dari perkotaan kotori Danau Sentani

“Alat itu berupa saringan besar yang dapat menyaring semua sampah yang tidak terurai, yang dibuang masyarakat,” katanya.
Sampah yang terapung di Dermaga Yahim akhir tahun lalu. Jubi / Engel Wally.
Engelbert Wally
engellenny2509@gmail.com
Editor : Galuwo

LipSus

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Salah satu objek pariwisata andalan di Kabupaten Jayapura, yakni Danau Sentani, kondisinya kini memprihatinkan akibat menjadi muara beberapa sungai yang membawa sampah dari perkotaan.

Dikatakan Ketua Dewan Adat Suku (DAS) Sentani, Demas Tokoro, pemerintahan di Kota Jayapura, harus bersikap tegas terhadap permasalahan ini.

“Pemerintah setempat harus tegas dalam mengurusi masyarakat perkotaan. Paling tidak ada regulasi semacam peraturan daerah, yang mengatur tentang pembuangan sampah di perkotaan. Agar warga tidak membuang sampah di sungai,” katanya, saat ditemui di Sentani, Rabu (07/02/2018).

Sementara di Danau Sentani, kata dia, pemerintah kabupaten mesti membangun semacam filterisasi air di setiap hulu sungai.

“Alat itu berupa saringan besar yang dapat menyaring semua sampah yang tidak terurai, yang dibuang masyarakat,” katanya.

Tokoro sendiri sepakat dengan pernyataan Ondofolo Kampung Ifar Besar, Franz Alberth Joku, yang mengatakan kepadanya bahwa Danau Sentani sudah menjadi septi tank terbesar.

“Akibat sampah yang dibuang masyarakat perkotaan, danau mengalami pendangkalan. Jika tidak serius menanganinya, maka sepuluh hingga dua puluh tahun akan datang, Danau Sentani penuh dengan bukit-bukit sampah yang mencuat dari dalam danau,” ujarnya.

Salah satu warga Kampung Yahim, Libert Pangkali, membenarkan kondisi danau yang memprihatinkan.

“Salah satu muara sungai yang berada di kampung saya, telah membentuk bukit lumpur berpasir dan sampah sepanjang lima puluh meter, yang menjorok ke Danau Sentani,” katanya.

Apalagi saat banjir besar, kata dia, sampah dari perkotaan banyak mengapung di danau.

“Akhir tahun lalu, banyak sampah yang turun dari muara ini dan memenuhi Dermaga Yahim. Akibatnya semua aktivitas penyeberangan menggunakan speed boat dan perahu motor dari Dermaga Yahim ke kampung-kampung, lumpuh total,” ujarnya. (*)

CRM : Menemukan Apa yang Berharga di Mata Customer

Setelah kita tahu siapa customer kita atau orang seperti apa dia, maka akan muncul pertanyaan “Bukankah lawan bisnisku juga bisa menyelesaikan masalah customer ku?” Jawabannya benar, karena itu kamu harus memiliki nilai yang membuat customer datang ke kamu. Nilai apa yang membuat customer datang ke kamu? Sebelum kita pelajari mari kita lihat mengenai […]

melalui CRM : Menemukan Apa yang Berharga di Mata Customer — Eric Sofos

10 DESTINASI WISATA PALING POPULER DI PAPUA

Written By Adeeva Travel on Monday, 25 January 2016 | 14:29:

10 Destinasi Wisata Paling Populer Di Papua  

10 Destinasi Wisata Paling Populer Di Papua
AdeevaTravel – Indonesia adalah sebuah negara yang memang kaya akan keindahan alamnya. Sehingga banyak wisatawan mancanegara berbondong-bondong datang ke Indonesia untuk menikmati liburan untuk melihat dan menikmati tempat-tempat pariwisata yang sangat menakjubkan terutama ke wilayah Papua, Indonesia.
Keindahan alam Papua  memang masih sangat alami dan mengagumkan. Di Papua Anda dapat menikmati keindahan bawah laut yang sangat lengkap seperti di Raja Ampat, Menyaksikan Gletser tropis di Pegunungan Jaya Wijaya atau menelusuri budaya Papua di Desa Wisata Suwandarek.
Berikut 10 Destinasi Wisata Paling Populer Di Papua yang banyak di datangi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menikmati keindahan alam Papua.

1. Raja Ampat

Raja Ampat
Kepulauan Raja Ampat merupakan rangkaian empat gugusan pulau yang berdekatan yang berlokasi di bagian Barat Pulau Papua, Indonesia. Perairan Raja Empat merupakan salah satu dari 10 perairan terbaik buat penyelaman di dunia.

http://banner.agoda.com/api/banner.html?ad_client=1738396_53123&ad_width=468&ad_height=90&p=http%3A%2F%2Fadeevatravel.blogspot.com%2F2016%2F01%2F10-destinasi-wisata-paling-populer-di-papua.html&ab=3361:A,2:A

Di tempat ini terdapat lebih dari 450 jenis karang keras, 1.000 jenis ikan karang, 700 jenis moluska dan catatan tertinggi bagi gonodactyloid stomotopod crustaceans.
Ada beberapa kawasan terumbu karang yang masih sangat baik kondisinya dengan persentase penutupan karang hidup hingga 90%, yaitu di selat Dampier (selat antara Pulau Waigeo dan Pulau Batanta), Kepulauan Kofiau, Kepualauan Misool Tenggara dan Kepulauan Wayag. Tipe dari terumbu karang di Raja Ampat umumnya adalah terumbu karang tepi dengan kontur landai hingga curam. Tetapi ditemukan juga tipe atol dan tipe gosong atau taka. Di beberapa tempat seperti di kampung Saondarek, ketika pasang surut terendah, bisa disaksikan hamparan terumbu karang tanpa menyelam dan dengan adaptasinya sendiri, karang tersebut tetap bisa hidup walaupun berada di udara terbuka dan terkena sinar matahari langsung.
Raja Ampat
Spesies yang unik yang bisa dijumpai pada saat menyelam adalah beberapa jenis kuda laut katai, wobbegong, dan ikan pari Manta. Juga ada ikan endemik raja ampat, yaitu Eviota raja, yaitu sejenis ikan gobbie. Di Manta point yg terletak di Arborek selat Dampier, Anda bisa menyelam dengan ditemani beberapa ekor Pari Manta yang jinak seperti ketika Anda menyelam di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Jika menyelam di Cape Kri atau Chicken Reef, Anda bisa dikelilingi oleh ribuan ikan. Kadang kumpulan ikan tuna, giant trevallies dan snappers. Tapi yang menegangkan jika kita dikelilingi oleh kumpulan ikan barakuda, walaupun sebenarnya itu relatif tidak berbahaya (yang berbahaya jika kita ketemu barakuda soliter atau sendirian). Hiu karang juga sering terlihat, dan kalau beruntung Anda juga bisa melihat penyu sedang diam memakan sponge atau berenang di sekitar anda. Di beberapa tempat seperti di Salawati, Batanta dan Waigeo juga terlihat Dugong atau ikan duyung.

2. Taman Nasional Lorenz

Taman Nasional Lorenz
Taman Nasional Lorenz adalah Taman Nasional yang terletak di Provinsi Papua, Indonesia. Taman seluas 22,4 juta ha ini merupakan Taman Nasional terbesar di Asia Tenggara yang merupakan salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1999.
Taman Nasional ini merupakan salah satu diantara tiga kawasan di dunia yang mempunyai gletser di daerah tropis yang membentang di puncak gunung setinggi 5.030 mdpl. Selain itu di Taman Nasional Lorenz terdapat 34 tipe vegetasi yang diantaranya hutan rawahutan tepi sungai, hutan sagu, hutan gambut, pantai pasir karang, hutan hujan lahan datar, hutan kerangas, padang rumput hingga lumut kerak.
Selain itu ditempat ini juga banyak ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan dan hewan langka. 630 jenis burung dan 123 jenis mamalia.
Taman Nasional ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi yang ditunjang dengan keanekaragaman budaya yang sangat menggagumkan yang diperkirakan telah berusia 30.000 tahun dan merupakan tempat kediaman dari Suku Nduga.
Anda dapat berkunjung ke Taman Nasional Lorenz ini melalui Timika ke bagian utara menggunakan penerbangan perintis dan kebagian selatan menggunakan kapal laut melalui Pelabuhan Sawa Erma dan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju beberapa lokasi yang ada di Taman Nasional Lorenz. Waktu terbaik berkunjung ke taman ini adalah sekitar bulan Agustus hingga bulan Desember setiap tahunnya.

3. Danau Sentani

Danau Sentani
Danau Sentani adalah sebuah danau yang terletak dibawah Lereng Pegunungan Cagar Alam Cyclops yang memiliki luas 245.000 ha. Danau Sentani dengan luas 9.360 ha berada pada ketinggian 75 mdpl merupakan danau terluas di Papua.

Keberadaan danau yang sangat mudah di jangkau ini sering kali mengadakan Festival Danau Sentani yang biasanya diselenggarakan pada bulan Juni setiap tahunnya. Pada festival ini Anda akan dapat berkeliling di tengah danau dengan 21 pulau kecil di dalamnya sambil menikmati tarian-tarian adat Papua di atas perahu atau menyaksikan upacara adat seperti penobatan Ondoafi dengan sajian berbagai kuliner khas Papua.

Di danau ini Anda dapat menemukan 30 spesies ikan air tawar dan empat di antaranya merupakan endemik Danau Sentani yaitu ikan gabus Danau Sentani (Oxyeleotris heterodon), ikan pelangi Sentani (Chilatherina sentaniensis), ikan pelangi merah (Glossolepis incisus) dan hiu gergaji (Pristis microdon). Danau Sentani kaya akan beragam biota laut dan sudah dimanfaatkan untuk budidaya ikan air tawar. Danau Sentani juga dijadikan lokasi wisata untuk berenang, bersampan, menyelam, memancing, ski air serta wisata kuliner. Di antaraketiga ikan endemik danau sentani yang populasinya semakin menyusut adalah ikan gabus Danau Sentani, hal ini dikarenakan telur ikan ini dimakan oleh ikan gabus dari jenis yang lain.

4. Teluk Triton

Teluk Triton

Teluk Triton adalah sebuah teluk yang terletak di Kabupaten Kaimana, Papua, Indonesia. Wilayah ini menjadi terkenal karena adanya surga bawah laut serta warisan budaya di dalamnya.

Teluk yang letaknya tersebunyi di dekat Kampung Lobo memiliki rentetan pulau-pulau kecil batu karang, air yang jernih serta pemandangan pantai dan bawah laut yang sangat menakjubkan. Di tambah panorama yang sangat indah di kala senja menjelang.

Kini surga yang tersebunyi di bumi Papua mulai terkenal oleh para ahli biologi laut, penyelam dan para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Dengan pemandangan langit yang sangat spektakuler di saat senja, Mereka menjuluki tempat ini sebagai “The Fish Empire” atau “Kota Senja” atau “The Lost Paradise”.

Di Teluk Triton Anda dapat menemukan 937 jenis ikan laut yang beberapa diantaranya adalah spesies baru yang hanya Anda dapat temukan di Teluk Triton. Di wilayah ini Anda juga dapat menyaksikan keindahan 492 jenis terumbu karang yang berbeda dan 16 diantaranya adalah jenis baru yang tidak akan Anda temukan ditempat lainnya di dunia.

Teluk Triton

Selain Pemandangan Bawah Laut Teluk Triton bagaikan surga dunia, Di perairan ini, Anda juga dapat menemukan 27 jenis udang lobster, dan 16 jenis penyu hijau. Keindahan Karang lunak adalah salah satu daya tarik trersendiri di Teluk Triton. Di sini Anda juga akan dapat dengan mudah menemukan Hiu Paus mencari makan serta lukisan kuno dari zaman pra-sejarah di bukit-bukit sekitar Teluk Triton yang melukiskan gambar tangan dan hewan.

Kini surga yang tersembunyi ini mulai dikenal oleh para ahli biologi laut, para penyelam, dan mereka yang suka datang dan menikmati saat-saat matahari terbenam, dengan pemandangan langit yang spekatakuler. Mereka menjuluki lokasi ini sebagai “ The Fish Empire,” selain julukan “Kota Senja”, ada juga yang menyebutnya” The Lost Paradise” Para ahli-ahli itu telah berhasil mengidentifikasi 937 jenis ikan laut dan beberapa di antaranya adalah spesies baru yang hanya bisa ditemukan di Kaimana. Mereka juga telah menemukan 492 jenis terumbu karang yang berbeda dan 16 di antaranya adalah jenis baru yang tidak ditemukan ditempat lain di dunia dan semuanya dalam kondisi sehat, mereka juga menemukan 27 Jenis udang lobster, dan 16 jenis penyu hijau. Teluk Triton ini memang masih belum populer dikalangan pencinta fotografi, atau orang-orang suka perpetualang dibanding lokasi-lokasi wisata pantai dan bawah laut lainnya di Indonesia tetapi sudah cukup banyak wisatawan yang datang berkunjung ke sini, baik wisatawan asing maupun domestik. – See more at: http://mahessa83.blogspot.com/2015/03/menikmati-mentari-senja-di-teluk-triton-kaimana.html#sthash.xLkBKENY.dpuf

5. Danau Paniai

Danau Paniai

Danau Paniai adalah sebuah wisata danau yang terletak di Kabupaten Paniai, Papua. Danau yang memiliki pemandangan alam yang sangat indah dan terawat dengan sangat baik ini dipuji oleh 157 negara ketika berlangsungnya Konferensi Danau Se-dunia yang diselenggarakan di India pada tahun 2007 lalu.

Danau yang berada di wilayah pegunungan dengan udara yang sejuk pada ketinggian 1.700 mdpl menyimpan banyak jenis ikan air tawar dan udang endemik Papua yang sudah sangat langka.

Bagi Anda yang ingin mengunjungi Danau Paniai, dapat memulai perjalanan dari Kota Enarotali, Ibu Kota Kabupaten Paniai. Dari Kota Enarotali, tersedia dua jalur menuju kawasan Danau Paniai. Pertama, menggunakan jalur darat dengan menyewa bus jenis Mitsubishi Strada yang dapat diandalkan untuk melintasi medan jalan yang terjal dan berkelok-kelok. Kedua, mengambil jalur udara dengan menumpang pesawat AMA dan AMAF jenis Cessna yang bisa mendarat di wilayah dataran tinggi dengan karakteristik landasan dari tanah.

6. Taman Nasional Teluk Cendrawasih

Taman Nasional Teluk Cendrawasih
Keanekaragaman ekosistem di kawasan Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna, baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi. Adapun keanekaragaman fauna yang terdapat di dalam kawasan TNTC meliputi antara lain: terumbu karang sebanyak 200 jenis, ikan 209 jenis, moluska 196 jenis, reptil 5 jenis, mamalia air 3 jenis, burung (Aves) 37 jenis, dan fauna darat 183 jenis.Jenis ikan yang diketahui hingga saat ini sebanyak 209 jenis dari 65 Famili.

Molusca yang tercatat terdiri dari 196 jenis dari 3 klas dan 56 famili, dengan rincian: dari klas Gastropoda atau keong 153 jenis, bivalvia (moluska katup ganda atau kerang) 40 jenis, dan Cephalopoda 3 jenis. Diantara jenis-jenis molusca tersebut yang dilindungi antara lain: dari famili Tridacnidae, yaitu Kima Raksasa (Tridacna gigas), Kima Besar (Tridacna maxima), Kima Tapak Kuda (Hippopus hippopus), dan Kima Lubang (Tridacna coreacea); dari famili Cymatidae, yaitu Triton Trompet (Charonia tritonis); dari famili Cassidae, yaitu Kima Kepala Kambing (Cassis cornuta); dari famili Trochidae, yaitu Lola (Trochus niloticus); dan dari famili Trubinidae, yaitu Batu Laga (Turbo marmoratus).

Taman Nasional Teluk Cendrawasih

Pada perairan TNTC juga sering dijumpai Duyung (Dugong Dugon), Lumba-lumba leher botol (Delphinus delphinus), ketam kelapa (Birgus latro), ikan kakatua besar (bumphead parrotfish; Bolbomethopon nuricatum), pari rajawali totol (Aetobatus narinari), pari manta (Manta birostris), hiu reef whitetip (Triaenodon obesus), hiu blacktip (Charcarinus melanopterus), paus biru (Balaenoptera musculus), dan buaya muara (Crocodylus porosus).

Adapun jenis-jenis penyu yang sering dijumpai, antara lain: Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik Semu/Lekang (Lephidochelys olivaceae), dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea).

7. Lembah Baliem

Lembah Baliem
Lembah Baliem merupakan lembah di pegunungan Jayawijaya. Lembah Baliem berada di ketinggian 1600 meter dari permukaan laut yang dikelilingi pegunungan dengan pemandangannya yang indah dan masih alami. Suhu bisa mencapai 10-15 derajat celcius pada waktu malam.

Lembah ini dikenal juga sebagai grand baliem valley merupakan tempat tinggal suku Dani yang terletak di Desa Wosilimo, 27 km dari Wamena, Papua. Selain Suku Dani beberapa suku lainnya hidup bertetangga di lembah ini yakni Suku Yali dan suku Lani.

Lembah adalah sekitar 80 km panjang sebesar 20 km dengan lebar dan terletak di ketinggian sekitar 1,600-1,700 m, dengan populasi sekitar 100.000 jiwa.

Festival Lembah Baliem

Festival Lembah Baliem awalnya merupakan acara perang antarsuku Dani, Lani, dan Suku Yali sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan. Sebuah festival yang menjadi ajang adu kekuatan antarsuku dan telah berlangsung turun temurun namun tentunya aman untuk Anda nikmati.

Festival Lembah Baliem berlangsung selama tiga hari dan diselenggarakan setiap bulan Agustus bertepatan dengan bulan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Awalnya pertama kali digelar tahun 1989. Yang istimewa bahwa festival ini dimulai dengan skenario pemicu perang.

Untuk mencapai lembah yang eksotik ini Anda harus mencapai Jayapura terlebih dahulu. Dan untuk mencapai Wamena, ada banyak sekali pilihan penerbangan, seperti Trigana, MAF, AMA, Yajasi, Manunggal Air, atau pesawat Hercules.

Tapi jangan kaget bila di Wamena harga barang masih begitu tinggi, Untuk makan di warung kelas warteg, Anda bisa menghabiskan sekitar Rp 25.000 atau sekitar dua kali lebih mahal daripada Jakarta. Semua harga di Wamena lebih tinggi daripada di tempat lain karena semua barang datang melalui udara. Wamena belum punya hubungan darat dengan tempat lain, termasuk ibu kota Papua, Jayapura.

8. Pantai Bosnik

Pantai Bosnik
Pantai Bosnik adalah pantai yang sangat indah dan menawan yang terletak di Desa Woniki, Biak Timur, Papua, Indonesia. Di pantai ini Anda juga dapat menikmati pemandangan bawah lautnya yang masih sangat alami dengan terumbu karang dari berbagai jenis. Di pantai dengan pasir putihnya yang sangat lembut dan berkilau Anda dapat berjemur dengan rasa nyaman sambil di iringi semilir angin pantai.

9. Pulau Rumberpon

Pulau Rumberpon
Pulau Rumberpon adalah pulau yang sangat indah dan menawan yang terletak di sebelah utara Kabupaten Teluk Wondama dan berbatasan dengan Kabupaten Manokwari, Papua Barat.
Pulau Rumberpon memiliki garis pantai yang sangat indah dengan pasir putihnya yang bersih dan berkilau. Di pantai ini Anda dapat melakukan aktivitas pantai dengan rasa nyaman seperti berenang, snoorkeling, scuba diving, berselancar, jet sky hingga memancing.
Bukan hanya itu, perairan di pulau ini sangat jernih dan di sekitar pulau dikelilingi oleh terumbu karang dengan profil dasar laut yang landai sepanjang 100 meter.

10. Desa Wisata Suwandarek

Desa Wisata Suwandarek
Desa Suwandarek adalah sebuah Desa Wisata yang berada di bagian barat Pulau Waisal, Kabupatan Raja Ampat, Papua Barat. Di desa ini Anda dapat menyaksikan rumah-rumah beratap daun jerami. Bukan itu saja di desa ini juga terdapat sebuah danau berair asin yang dikenal dengan nama Danau Yenauwyau dan karang yang sangat indah yang letaknya ada dibagian belakang desa.
Desa Wisata Suwandarek
Selain memiliki panorama desa yang sangat indah, Tempat ini juga banyak menjajakan cindera mata khas Papua seperti tas atau topi yang dibuat sendiri oleh penduduk desa. Cindera-cindera mata di desa ini menggunakan bahan-bahan alami yang ada di sekitar desa seperti daun pandan laut.
Untuk dapat mencapai tempat ini Anda bisa menggunakan jalur udara atau darat kekota Sorong. Dari Sorong, Anda bisa menggunakan jalur laut dengan menggunakan kapal motor atau speed boat dengan lama perjalanan sekitar 2 jam ke Desa Suwandarek.
Nah itulah 10 Destinasi Wisata Paling Populer Di Papua sebagai referensi untuk liburan Anda ke Pulau Papua, Indonesia yang sangat sayang untuk Anda lewatkan.

Menentukan Nama Kota Port Numbay

Foto Alson Numberi.
Alson Numberi

Yang Benar tu Port NUMBAY atau NUBAI (Noebai) 🤔

Dari beberapa literatur tentang Hollandia nama yg tercatat kemudian sebagi pusat kota Hollandia itu NUBAI (Noebai) bukan Numbay, Nubai adalah lembah yg terletak antara Bukit Polimac dan bukit APO (percetakan) yg sekarang dibangun pusat perbelanjaan di jayapura (seputaran A.Yani -Percetakan-Koti). Dahulu sbelum tahun 1948 (banjir bandang) ada dua mata Air di tengah Kota Jayapura, Yaitu kali Anafri dan mata Air NUBAI (Noebai) yg mengaliri Kampung NUBAI yg sekarang menjadi pusat Kota Jayapura dahulu bermukim suku “KAJO” (Kayo darat) anak suku dari Kayo Pulo (H.J Van Doornik).

Dalam buku resimen infantri 162, tercatat nama kampung NUBAI tempat tragedi tertembaknya Liutenant Michael Polimac, nama ini kemudian diabadikan sebagai bukit Polimak yg menjadi batas kampung NUBAI (NUBAI Creek) yaitu tempat mengalirnya mata air Nubai yg kemudian pada tahun 1948 setelah banjir besar dialirkan menjadi satu dengan Kali Anafri oleh pemerintah Nieuw Guinea.

Jadi Hilangnya Nama NUBAI disebabkan karena punahx suku Kajo darat yg mendiami NUBAI pada saat Pemboman besar2an saat Perang Dunia II tahun 1944, karena kampung Nubai saat itu disusupi oleh tentara Jepang. Ditutupnya mata Air NUBAI tahun 1950 yg dialirkan ke kali Anafri menyebabkan hilang bukti sejarah Nama NUBAI dari dokumentasi sejarah tentang Jayapura. (50 jaar in Noebai ; DR.K.W.GALIS-1960).

👉 *(Ket.Foto; Pemboman Noebai / Kota Jayapura oleh Tentara Sekutu ketika Perang Dunia II tahun 1944).

Minol dan Narkoba Jadi Faktor Penyebab Tingginya HIV-AIDS di Papua

 

 

Ilustrasi HIV dan AIDS – IST
Jayapura – Anggota Komisi V DPR Papua bidang kesehatan, Nioluen Kotouki mengatakan, minuman beralkohol (minol) dan narkoba, jadi faktor penyebab tingginya penularan HIV-AIDS di Papua.
Ia mengatakan, minol dan narkoba merupakan bagian tidak terpisahkan dari penyakit ini.
“Tidak jarang orang melakukan hubungan seks bebas karena pengaruh minol dan narkoba,” kata Kotouki kepada Jubi, Selasa (19/12/2017).
Menurutnya, inilah salah satu alasannya DPR Papua mengesahkan perdasi tentang narkotika dalam sidang APBD Papua, pekan lalu, dan mengesahkan perdasi pelarangan peredaran minol di Papua, beberapa tahun lalu, meski dalam penerapannya menuai pro dan kontra dari berbagai pihak, dan belum dapat menghentikan penjualan minol di Papua.
“HIV dan AIDS ini tidak bertumbuh sendiri, tapi akibat dari berbagai hal,” ujarnya.
Katanya, dalam mencegah penularan HIV dan AIDS peran keluarga sangat penting. Selain itu sosialisasi dini terhadap generasi muda yang rentan, perlu terus dilakukan secara kontinu.
“Memang tidak gampang memberantas HIV dan AIDS. Butuh dukungan berbagai pihak menekan laju penyebaran. Tidak hanya pemerintah, instansi terkait, lembaga yang bergerak di bidang HIV dan AISD, juga peran keluarga, dan paling penting, kesadaran setiap pribadi,” katanya.
Sekretaris Komisi V DPR Papua, Natan Pahabol mengatakan hal yang sama. Menurutnya, dalam menekan laju pertumbuhan HIV dan AIDS, ada pada individu setiap orang.
“Kalau kita semua sadar akan bahaya penyakit ini, tentu kita akan menjauhi hal-hal yang berpotensi menyebabkan terjadinya infeksi HIV dan AIDS,” kata Natan.
Katanya, memang tidak semua penderita HIV dan AIDS terjangkit akibat seks bebas, narkoba dan lainnya. Ada juga yang tanpa sengaja tertular, namun skalanya kecil. (*)