Ada kemiskinan parah dibalik kemasyhuran Raja Ampat

Mainyafun, seperti beberapa tempat lainnya di Raja Ampat tidak punya sumber pengolahan air bersih. Air bersih didatangkan dari Waisai, pulau dimana banyak elit lokal dan pemilik cottage tinggal.
Anak-anak di Waisai, Raja Ampat – Dok. Jubi
Kyoshi Rasiey
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor :

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi – Asmiati Malik, seorang kandidat doktor dari Birmigham University mengungkapkan adanya kemiskinan yang sangat memprihatinkan dibalik masyhurnya  Raja Ampat, lokasi diving paling terkenal di dunia.

Selama Asmiyati melakukan riset doktoralnya di Raja Ampat, ia tinggal di Kepulauan Mainyafun, berjarak 4 jam menggunakan kapal motor dari pulau Waisai. Mainyafun dihuni oleh 55 keluarga.  Masing-masing keluarga memiliki 9-12 anggota keluarga.

Asmiyati, mengatakan risetnya mengkonfirmasi 20 persen dari 45.000 jiwa penduduk Raja Ampat hidup di bawah garis kemiskinan.

“Mereka ini tidak punya akses ke pendidikan, layanan kesehatan dan pasar,” kata Asmiyati mengenai kesimpulan risetnya.

Selain itu, lanjutnya, data 2015 menunjukkan rata-rata sebuah keluarga dengan empat hingga lima anggota keluarga menghabiskan lebih dari 800 ribu rupiah untuk makanan dan kebutuhan lainnya. Angka ini lebih tinggi 10 persen dari rata-rata nasional yang disebabkan oleh tingginya biaya hidup di kepulauan ini.

Mainyafun, seperti beberapa tempat lainnya di Raja Ampat tidak punya sumber pengolahan air bersih. Air bersih didatangkan dari Waisai, pulau dimana banyak elit lokal dan pemilik cottage tinggal.

“Kadang-kadang air didatangkan dua kali dalam sebulan, bahkan bisa sekali dalam dua bulang,” kata Asmiyati.

Masyarakat setempat kadang mengkonsumsi air hujan. Walaupun ada air yang dialirkan dari gunung ke pusat kampung namun air itu mengandung mineral yang sangat tinggi.

“Tak ada listrik dan sinyal telepon. Sebagian besar penduduk di Kepulauan Mainyafun mengatakan pendidikan adalah hal yang sangat mewah. Mereka hanya sanggup sekolah hingga tamat Sekolah Dasar yang secara kebetulan menjadi satu-satunya level sekolah yang tersedia,” lanjut Asmiyati.

Jika mereka ingin melanjutkan sekolah, mereka harus pergi ke Waisai. Perjalanan ke Waisai membutuhkan biaya lebih dari satu juta rupiah sekali jalan.

“Empat jam naik perahu fiber dari Mainyafun. Kadang tidak ada peralatan keselamatan,” ujar Asmiyati. (*)

Kemiskinan Parah di Balik Dahsyatnya Promosi Raja Ampat

Sebuah rumah penduduk di Raja Ampat. (Foto: Adam Howarth/Flickr, CC BY-NC-ND)

BIRMINGHAM, SATUHARAPAN.COM – Di balik promosi dahsyat tujuan wisata Raja Ampat di Papua, terdapat kemiskinan parah dan rakyat yang merasa ditinggalkan. Ini dikatakan oleh Asmiati Malik, kandidat doktor di University of Birmingham, Inggris, berdasarkan kunjungan untuk penelitiannya ke Raja Ampat belum lama ini.

Menulis di The Conversation, sebuah media online yang mengkombinasikan laporan akademis dengan gaya jurnalistik, Asmiati membandingkan demikian gegap gempitanya promosi pariwisata tentang Raja Ampat secara global dengan tak banyaknya yang mengetahui bahwa rakyat di sana hidup dalam tingkat kemiskinan yang parah, terasing dan merasa ditinggalkan.

Dahsyatnya pariwisata Raja Ampat dapat terlihat  sampai ke Time Square di New York. Sepanjang Oktober, sebuah billboard besar dengan gambar pemandangan di Raja Ampat digelar, dengan tagline, “escape to a magical place.” Daya tarik gambar itu, menurut Asmiati, menyembunyikan kemiskinan masyarakat yang tinggal di pulau-pulau di Raja Ampat.

Billboard besar di Time Square yang menggambarkan keindahan Raja Ampat, akan ditampilkan sepanjang bulan Oktober (Foto: Kompas)

Bagi yang belum akrab dengan destinasi wisata ini, Raja Ampat adalah sebuah gugusan pulau-pulau di  semenanjung Kepala Burung Papua Barat. Ia merupakan salah satu tempat menyelam terbaik di dunia. Ikan tropis warna-warni dapat terlihat dengan mata telanjang di lingkungan lautnya yang masih murni dengan keanekaragaman hayati yang masih alami.

Namun, bila bagi para wisatawan ia merupakan surga dunia,  bagi 20 persen dari 45.000 penduduknya, kemiskinan dan ketertinggalan adalah kehidupan sehari-hari. Menurut Asmiati, akses mereka sangat terbatas terhadap kesehatan, pendidikan, dan pasar.

Asmiati mengutip data tahun 2015, yang mengatakan empat dari tiap lima rumah tangga di Raja Ampat menghabiskan rata-rata US $ 65 per bulan hanya untuk makanan dan barang konsumsi lainnya. Itu 10 persen lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Penyebabnya, biaya hidup di pulau-pulau itu  begitu tinggi.

Jauh Dari Mana-mana

Dibutuhkan sekitar delapan jam untuk mencapai Raja Ampat dari Jakarta. Dari Sorong, sebuah perjalanan dengan feri diperlukan untuk sampai ke pulau Waigeo, salah satu dari empat pulau utama dari 1.800 pulau di Raja Ampat.

Waisai, ibukota Raja Ampat, terletak di Waigeo, pulau terbesar dalam gugusan pulau-pulau itu Di sana ada beberapa  cottage, sebagian besar dimiliki oleh elit lokal. Sebagian besar kegiatan pemerintahan dan administrasi Raja Ampat juga berpusat di Waisai. Namun populasinya tersebar di banyak pulau-pulau.

Seorang pekerja kesehatan berusaha untuk mendapatkan sinyal bagi ponselnya (Foto: Asmiati Malik)

Pada bulan April 2016, Asmiati tinggal  di pulau Mainyafun, empat jam dengan perahu dari Waisai untuk penelitian doktoralnya. Mainyafun dihuni 55 rumah tangga, dengan masing-masing keluarga memiliki antara sembilan dan 12 anggota keluarga.

Asmiati menulis, bahwa seperti di banyak kota di Raja Ampat, Mainyafun tidak memiliki fasilitas pengolahan air. Air bersih untuk minum diangkut dari Waisai, dua kali sebulan atau dua bulan sekali tergantung pada musim. Penduduk desa juga mengumpulkan air hujan untuk minum. Air dari gunung disalurkan ke pusat desa, tetapi memiliki kandungan mineral yang sangat tinggi.

Lebih jauh, menurut laporan Asmiati, tidak ada listrik dan tidak ada sinyal telepon. Kebanyakan orang menyebut pendidikan sebagai “barang bergengsi”, dan hanya belajar untuk sampai tamat sekolah dasar. Itu lah sekolah tertinggi yang tersedia di desa itu.

Untuk melanjutkan sekolah di luar tingkat SD, siswa di Manyaifun harus pergi ke Waisai. Perjalanan memakan biaya US $ 100 atau Rp 130 ribu dengan perahu   fiberglass yang sering tanpa peralatan keselamatan.

Hidup Tekor

Berada di daerah yang melimpah dengan ikan, kebanyakan penduduk di pulau ini mencari nafkah sebagai nelayan. Tapi banyak dari mereka masih hidup dalam kemiskinan ekstrem. Sebagian besar keluarga memiliki utang kepada pemilik toko kecil penjual barang kebutuhan pokok di sana.

Harga  ikan yang mereka jual sangat rendah sehingga bahkan jika mereka menangkap sepuluh kilogram setiap hari, mereka masih kehilangan uang. Nelayan membutuhkan lima liter bahan bakar per hari untuk mengoperasikan perahu kecil mereka. Tapi bahan bakar langka dan sangat mahal, dan lima liter biaya Rp 162 ribu.

Nelayan menjual ke pengepul di Mainyafun yang memprosesnya menjadi ikan asin. Harga jual maksimal di Mainyafun adalah US Rp 2.600 per kg, jadi sepuluh kg ikan mendapat sekitar Rp 26 ribu. Setelah biaya bahan bakar, mereka akan merugi Rp 136 ribu

Harga ikan di Waisai sepuluh kali lebih tinggi, dan 20 kali lebih tinggi di Sorong. Tapi nelayan di Mainyafun harus menjual ikan mereka langsung karena tidak ada listrik untuk cold storage.

Orang perlu kapal yang lebih besar, bahan bakar yang lebih murah dan akses ke pasar Waisai atau Sorong untuk mendapatkan harga yang lebih baik bagi ikan mereka. Tapi perahu yang layak dengan mesin yang dapat membawa volume yang lebih besar  ikan perlu biaya Rp 130 juta yang tidak mungkin bagi mereka untuk membelinya.

Tak Ada Pemerintah

Ada sebuah puskesmas kecil di Manyaifun. Satu dokter dan empat perawat yang bekerja di sana melayani tujuh kecamatan yang tersebar di pulau-pulau tetangga.

Banyak pasien mereka adalah nelayan yang meninggalkan rumah mereka pukul lima pagi dan kembali pada pukul lima sore. Petugas kesehatan harus siaga sepanjang waktu.

Masalah yang paling umum adalah malaria, infeksi kulit dan penyakit pernapasan. Kematian saat melahirkan adalah umum bagi wanita. Hanya obat-obatan dasar dan generik yang tersedia di klinik, dan kadang-kadang persediaan langka.

Hidup di sebuah pulau terpencil tanpa sinyal telepon membahayakan baik petugas kesehatan dan orang-orang yang mereka layani. Pasien yang memerlukan perawatan darurat, seperti malaria kronis, sering akhirnya meninggal. Satu-satunya rumah sakit dengan peralatan yang layak berada di daratan Kota Sorong, 135 kilometer jauhnya.

Para pekerja kesehatan kadang-kadang harus pergi ke pulau-pulau untuk keadaan darurat kesehatan dengan memakai kapal kecil tetangga. Mereka harus mengabaikan fakta bahwa kadang-kadang ombak mencapai hingga tiga meter. Ini lebih buruk jika mereka harus pergi di malam hari karena tidak ada alat navigasi modern atau informasi tentang cuaca yang dapat diharapkan.

Petugas kesehatan hanya mampu menemui keluarga mereka sekali atau dua kali setahun. Sebagian besar mereka berasal dari Sorong dan Sulawesi Selatan, yang 1.532 kilometer jauhnya. Menurut Asmiati, gaji pokok pekerja kesehatan atau pegawai kontrak  di sana lebih kurang Rp 2 juta sebulan, gaji yang hampir sama di seluruh Indonesia. Namun, jumlah itu sangat kecil bila dibandingkan dengan tuntutan tugas pekerja kesehatan di Manyaifun, yang acap kali pula terlambat dibayar.

Sementara itu, Indonesia mempromosikan Raja Ampat ke dunia dengan dahsyatnya. Pada saat yang sama masyarakat setempat dan petugas kesehatan merasa ditinggalkan. Mereka jarang melihat para pejabat pemerintah di daerah mereka. Menurut wawancara Asmiati dengan dokter setempat dan perawat, birokrat di Waisai, terutama dari badan kesehatan, tidak peduli tentang kehidupan, keselamatan atau kebutuhan emosional mereka.

Para pejabat pemerintah daerah, menurut Asmiati dalam wawancara, mengatakan bahwa mereka mencoba untuk meningkatkan kesejahteraan dengan mengajar orang bagaimana membangun homestay bagi wisatawan dan bagaimana untuk mempromosikan secara online. Tapi penduduk setempat dan petugas kesehatan mengatakan mereka belum pernah bertemu pejabat yang telah mengunjungi daerah mereka.

Menurut Asmiati, kemiskinan di Raja Ampat adalah refleksi dari peran penting  negara dalam proses pembangunan. Hanya melalui perhatian yang layak dari elit di Raja Ampat, dan pengawasan dari pemerintah pusat, perubahan dapat tiba kepada orang-orang miskin di daerah. Sebelum itu terjadi, Indonesia mungkin perlu berpikir dua kali tentang iklan Raja Ampat sebagai surga di Bumi.

Editor : Eben E. Siadari

Cenderawasih, Burung Surga Di Papua ( Bagian II )

JAYAPURA — Burung Cenderawasih, burung surga di Tanah Papua. Spesies ini merupakan sekumpulan  spesies burung yang dikelompokkan dalam famili Paradisaea yang  terdiri dari 14 jenis dan 43  spesies.

Andhiani Manik Kumalasari selaku Communication, Campaign, and Outreach Coordinator WWF Indonesia wilayah Papua menuturkan upaya konservasi burung Cenderawasih itu perlu keterlibatan banyak pihak. Menurutnya, undang-undang dan aturan secara internasional sudah ada.
“Data populasi di Papua, WWF belum ada datanya, karena memang luas cakupannya. Cenderawasih hampir bisa ditemui di semua wilayah di Papua,” kata Andhiani.
Dari WWF sendiri, dijelaskannya conservasi cenderawasih pertama-tama memang berangkat dari survey habitat dan populasi. Untuk habitat, bisa mendata jenis vegetasi atau pohon tempat tinggal burung, nantinya dapat merekomendasikan jenis-jenis pohon tersebut untuk tidak ditebang dan areanya tak dibuka. “Habitat juga terkait untuk referensi lokasi potensi ekowisata bird watching burung cenderawasih,” dijelaskan Andhiani.
Menurutnya, yang kurang memang sosialisasi undang-undang dan filosofi cenderawasih sebagai simbol budaya. Ia melihat hal ini justru yang menjadi bias, karena menjadi simbol budaya, jadi burung cenderawasih banyak diburu untuk dijadikan souvenir dan hiasan.
“Untuk mengeskpose lokasi-lokasi habitat burung cenderawasih ini, WWF juga berhati-hati, takutnya menjadi boomerang. Memberikan informasi ke orang tak bertanggung jawab untuk menemukan lokasi berburu,” ujarnya.
Upaya yang perlu dilakukan menurutnya, harus ada sinergitas dengan instansi pemerintah, seperti BBKSDA. Selama ini instansi tersebut telah menjadi mitra WWF, dan perlu juga adanya penyadartahuan ke masyarakat tentang makna dan filosofi cenderwasih.
“Setahu saya, dari beberapa sharing info yang saya dapat, yang boleh memakai ornamen cenderawasih asli itu hanya orang-orang terterntu, ondoafi atau tetua adat. Dan tak bisa sembarang orang yang memakainya. Ini yang perlu disebarluaskan,” katanya.
Saran yang dianjurkan, dikatakan Andhiani yakni melalui iklan layanan masyarakat dari tokoh-tokoh kunci seperti Gubernur dan Bupati Walikota untuk tak menggunakan ornamen cenderawasih asli sebagai souvenir atau hiasan di acara seni, fesitival atau hadiah ke tamu kehormatan.
“Di beberapa tempat sudah ada kesadaran kok, para penari dalam kegiatan festival atau event sudah mengunakan burung cenderawasih imitasi untuk hiasan rambut,” tuturnya.
Paling penting, ditambahkan Andhiani yaitu adanya penegakan hukum tentang berburu burung cenderawasih, selain itu pengawassan dari stok holder yang terus saling berkoordinasi setiap waktu.
Pada tahun 2014 lalu Gubernur Papua Lukas Enembe pernah menghimbau agar tak menggunakan hiasan kepala dari bangkai burung cenderawasih. “Jangan  lagi menggunakan burung Cenderawasih sebagai hiasan kepala dari burung yang diawetkan. Jika memakai  itu harus menggunakan yang imitasi,  tidak boleh yang asli,” kata Lukas Enembe.
Kearifan lokal masyarakat terhadap perlindungan burung Cenderawasih di Papua tentunya berdasarkan pada mitologi di setiap daerah di Papua. Khususnya di Merauke dan Mappi  terdapat kearifan masyarakat  tentang perlindungan burung Cenderawasih.
Di Kabupaten Merauke burung Cenderawasih menjadi  lambang dari marga Mahuze,  sehingga oleh marga Mahuze, pemanfaatan burung Cenderawasih  tidak diperbolehkan dalam bentuk apapun. Marga atau klan  ini masih memegang kearifan dalam menjaga burung Cenderawasih  sesuai mitologi yang diwariskan  secara  turun  temurun.
Sedangkan di Kabupaten Mappi,  terdapat  juga kearifan masyarakat dalam mitologi yang diwariskan dalam kehidupan masyarakat adat  suku Auwuyu  seperti  cerita asal muasal burung Cenderawasih.

PERSEPSI PEREMPUAN- PEREMPUAN KOMBAI – KOROWAI TENTANG SUAMI? JAWABAN YANG SANGAT KONTRADIKSI DENGAN NILAI-NILAI KELUARGA

Kamis, 13 Oktober 20

Kamis, tanggal 28 Oktober 2015, tepat jam 11.00 WIT saya bersama teman saya terbang menggunakan pesawat kecil twin otter dari Tanah Merah ibukota Kabupaten Boven Digoel menuju tanah adat suku Kombai – Korowai di Distrik Yaniruma.  Perjalanan memakan waktu  kurang lebih 20 menit. Dalam perjalanan itu, saya menikmati pemandangan sungai Digoel yang tampak rabun ditutupi embun dan air sungai yang terlihat menyempit. Ternyata pada saat  itu telah terjadi musim kemarau panjang yang menciptakan kabut asap.
Suku Kombai-Korowai, suku yang terkenal dengan rumah pohonnya dan hanya  saya dengar dari sebuah film berjudul LOST In Papua  karya Irham Acho Bachtiar.   Tidak disangka  dalam hidup saya, bahwa saya bisa diijinkan Tuhan untuk menjejakan telapak kakiku di tanah itu.  Seperti sebuah mimpi di siang hari.
Saya sempat berpikir bahwa mungkin saya bisa menemukan rumah pohon dan komunitas suku Korowai yang masih menggunakan koteka. Namun saya tidak melihat  itu di ibukota distrik. Saya lalu bertanya pada salah satu petugas medis di sana, Dimana rumah pohon itu? Kata petugas medis itu,  rumah pohon hanya ditemukan di kampung-kampung yang letaknya sangat jauh dari ibukota distrik ini.  Sayapun kecewa karena saya hanya menjangkau kampung-kampung di dekat ibu kota distrik.
Namun ada hal-hal  menarik  yang saya dapati saat saya  mengunjungi beberapa kampung terdekat.  Saya menemukan beberapa kelompok perempuan yang duduk bersama dengan anak-anaknya sedang menambang batu kerikil untuk dijual ke kontraktor sebagai bahan bangunan. Tidak saya dapati seorang suami atau laki-laki yang membantu mereka selain anak-anak mereka. Hal ini membuat tergerak hati saya ingin bertanya dimana suami mereka? Sayapun bertanya kepada mereka. Jawab perempuan-perempuan itu, bapa ada di rumah? lalu saya bertanya, Bikin apa mereka di rumah? jawab perempuan-perempuan itu, Duduk-duduk saja di rumah. Ada  yang menjawab, bapa pamalas, tidak pernah bantu mama.
Ada juga yang bilang, bapa turun ke kota sudah 2 minggu karena lagi  urusan kampung.  wow!! dalam hatiku, hebatnya perempuan-perempuan ini. Dahulu mereka tidak bekerja sebagai penambang batu, tetapi kebutuhan pembangunan di Distrik mereka menuntut para perempuan ini harus menambah lagi satu daftar  aktivitas produksi mereka. Tanpa sadar, mereka bukan menjadi penikmat pembangunan, justru mereka menjadi korban dampak pembangunan di daerah mereka.
Mengapa tidak laki-laki saja yang bekerja sebagai penggali tambang batu? Tanpa sadar dampak pembangunan hanya menjadikan laki-laki sebagai penikmat pembangunan dari hasil istrinya. Dimana istrinya mendapat uang dari galian tambang namun uang tersebut dialokasikan untuk mencukupi kebutuhan keluarga termasuk suaminya, membeli rokok untuk suami, membeli baju untuk suami. Saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil berjalan pulang ke penginapan saya. Seandainya ada regulasi yang mengatur setiap  proyek  pembangunan masyarakat layak diprogramkan jika  ada kelayakan berdasarkan  analisis  gender seperti halnya mengalisis Amdal pada setiap proyek pembangunan. Maka mungkin dampak kelebihan beban kerja pada perempuan dapat dihindari karena  mewajibkan laki-laki  harus mengambil bagian dalam bekerja.
Masih dengan berbagai pertanyaan di benak saya, sayapun melangkah meninggalkan mereka menuju sungai Daeram. Selama dalam perjalanan, sayapun menemukan sekumpulan  perempuan-perempuan yang menggendong noken berisi hasil kebun dan menggendong anak yang masih balita. Sayapun berhenti dan sempat menanyakan mereka dari mana? dan apa yang sedang dipikul di dalam noken? Merekapun berkata kami dari kebun. Pertanyaan berlanjut, mama, dimana suami mama? sebuah jawaban yang sama, bapa ada di rumah!!! wow! untuk yang kedua kali hatiku tersentak. Hebatnya mama-mama ini, mengurus anak sambil berkebun dan sambil menokok sagu  untuk  kebutuhan makanan harian mereka.
Saat yang hampir bersamaan, saya membuang mata saya ke arah sungai, terlihat dalam pandanganku, seorang perempuan beserta anak-anaknya sedang mendayung perjalan-lahan melawan arus sungai menuju tepian sungai, ternyata ia baru pulang memancing. Saya segera berlari karena ingin membantu menurunkan anaknya yang masih kecil ke tepian sungai. Sambil menggendong anaknya yang kecil, saya bertanya,  ibu dapat ikan kah tidak? ibu itu menjawab, hanya ikan kecil-kecil 3 ekor, mungkin karena sungai  lagi kering tidak seperti biasanya. Sudah berapa jam ibu memancing? jawabnya, Dari pagi. Saya lalu lihat jam tangan saya  ternyata hampir 4 – 5 jam ibu ini memancing bersama anaknya. Karena anaknya menangis lapar, maka mereka memutuskan untuk kembali ke rumah mereka untuk menyiapkan makanan pokok mereka, yaitu sagu bakar sinoli.
Saya mulai duduk bersama para perempuan-perempuan ini. Pertanyaan yang sama saya lontarkan kepada mereka, namun saya mendapatkan jawaban yang sama.  Pikirku dalam hati, kalau suami tidak membantu mereka,  terus apa manfaat suami bagi mereka? Apakah mereka masih membutuhkan suami? Apa pandangan mereka tentang  suami sebagai penolong?  Pertanyaan itu saya sengaja lontarkan kepada para perempuan-perempuan itu. Sebuah jawaban yang mengagetkan tetapi sangat bermakna :  bapa pamalas, tidak tahu bantu mama… kalau bapa mati juga tdk papa krn bapa hidup itu bikin beban untuk mama. Lebih baik mama hidup sendiri dari pada harus cari makan untuk mereka terus, mama cape… karena bapa pamalas dan tdk kerja apa-apa, jadi yang bapa  pikir itu cuma pikir kawin baru saja. Ternyata ada beberapa suami mereka yang memiliki istri muda di rumah dan para mama-mama atau istri-istri tua ini yang bekerja. oh my god!!!!
Sadarkah mereka bahwa mereka dieksploitasi secara tidak  sengaja oleh suami mereka?  ekploitasi tanpa bayaran. Padahal dari jawaban mereka, tersirat makna kemandirian mereka. Mereka sudah siap hidup tanpa suami karena tidak ada ketergantungan hidup pada suami mereka. Namun mengapa mereka harus hidup dalam kekuasaan laki-laki dan tidak berdaya untuk memberontak? Ternyata nilai budaya telah menkonstruksi mereka untuk hidup dalam kekuasaan laki-laki walaupun sebenarnya mereka sangat mandiri.

Kisah Pembuatan Paspor Online — RI32’s WEBLOG

Latar Belakang Artikel ini berisi pengalaman saya saat membuat Paspor, Dalam artikel ini akan saya sampaikan kendala-kendalanya, dan beberapa tips yang semoga bermanfaat untuk temen-teman yang akan membuat paspor secara online. Tahap Penginputan Data Paspor Online Untuk mengakses web https://ipass.imigrasi.go.id saya tidak dapat menggunakan browser Google Chrome karena ada warning Your clock is ahead. Jadi saya menggunakan browser Mozilla. Selama penginputan data […]

melalui Kisah Pembuatan Paspor Online — RI32’s WEBLOG

Paus, Ijinkan Perceraian dalam Katolik

Paus, Ijinkan Perceraian dalam Katolik

Sebuah pernyataan yang sangat mengejutkan dari Paus Francis, Pemimpin umat Katolik sedunia. Paus mengatakan bahwa “berpisah” dimungkin jika memang diperlukan secara moral. Maksudnya adalah Paus mengijinkan adanya perceraian dalam Katolik, jika hal tersebut tidak dapat lagi dihindari.

“Ada kasus di mana pemisahan tidak bisa dihindari,” kata Paus saat audiensi umum mingguannya, Rabu (24/6). Ia berharap ini akan menjadi pesan untuk mendorong kasih sayang yang lebih besar dalam Gereja menjelang pertemuan global gereja bulan Oktober mendatang.

Seperti diketahui, Katolik melarang adanya perceraian, karena kepercayaan yang mereka anut adalah,” Segala sesuatu yang sudah dipersatukan Tuhan, tidak dapat dicerai beraikan oleh manusia.” Dan sikap Paus Francis yang memberi sinyal dimungkinkannya perceraian terjadi diantara pemeluk umat Katolik menandai perubahan nada dalam sikap Gereja Katolik untuk pernikahan bermasalah.

“Kadang-kadang, bahkan dapat secara moral diperlukan, ketika itu tentang melindungi pasangan lemah atau anak-anak muda dari luka yang lebih serius yang disebabkan oleh kekerasan dan intimidasi, penghinaan dan eksploitasi,” katanya.

Masalah ini mungkin akan dibahas selama sinode – sebuah pertemuan uskup – mendatang. Paus Francis diharapkan akan membantu mendamaikan pemikiran Katolik dengan realitas kehidupan masyarakat di awal abad ke-21.

Sebuah perkawinan adalah perpaduan antara dua manusia menjadi sepasang suami istri yang mempunyai latar belakang serta kebiasaan yang berbeda. Perbedaan yang ditimbulkan dari pasangan itu sendiri maupun perbedaan dari latar belakang keluarga masing-masing pasangan.

Perkawinan sejatinya dapat dipertahankan hingga ajal memisahkan, namun terkadang dalam perjalanan hidup perkawinan itu sendiri timbul banyak persoalan yang tekadang jika perkawinan tersebut dilanjutkan akan timbul hal yang kurang baik, bahkan terkadang timbul adanya pertengkaran dan juga kekerasan fisik.

Jika telah terjadi hal seperti itu, maka perlu adanya peninjauan kembali apakah perkawinan tersebut perlu dilanjutkan. Jika perceraian adalah jalan terbaik untuk hubungan yang lebih baik, maka tidak ada salahnya kita mengambil langkah tersebut. Memang dampak buruk dari perceraian adalah kehidupan anak terseebut pasca perceraian orang tuanya. Namun tidak sedikit anak yang bahagia setelah orang tuanya bercerai. Mereka malah lebih rukun setelah perceraian.

Daripada bersatu dalam permusuhan, lebih baik berpisah dalam kebaikan.

Larangan Berenang Bersama Lumba-lumba di Hawaii

Larangan Berenang Bersama Lumba-lumba di Hawaii

Kini, wisatawan tak bisa lagi berenang bersama dengan lumba-lumba di lepas pantai Hawaii.

Larangan Berenang Bersama Lumba-lumba di HawaiiLumba-lumba paruh panjang (Stenella longirostris) berenang bersama penyelam di peraian Hawaii. NOAA memperingatkan bahwa berenang dengan lumba dapat menjadi bentuk pelecehan pada populasi lokal spesies, karena waktu istirahat hewan berkurang. (Kevin Dickinson/Thinkstock)

Kini, wisatawan tak bisa lagi berenang bersama dengan lumba-lumba di lepas pantai Hawaii karena larangan dari pemerintah.

Sebuah aturan baru yang diusulkan oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) bidang National Marine Fisheries Service melarang interaksi manusia dengan lumba-lumba paruh panjang Hawaii (Stenella longirostris) dalam jarak 50 yard. Peraturan tersebut dimaksudkan untuk melindungi lumba-lumba selama masa kritis, serta melindungi mereka dari interaksi yang berpotensi stres bersama paraa turis.

Spesies lumba-lumba ini aktif di malam hari. Mereka mencari makan di perairan dalam, kembali pada siang hari ke dekat pantai untuk beristirahat (Waktu yang sama saat wisatawan memulai kegiatannya di laut). Lumba-lumba ini juga memelihara anak mereka, dan berpartisipasi dalam perilaku sosial lainnya. S.longirostris dikenal sangat energik, mereka menampilkan lompatan ke udara yang mengesankan.

Jika manusia dibiarkan terus melakukan pertemuan di dekat kawanan lumba-lumba, peneliti khawatir spesies terancam secara tak langsung.

Jika manusia dibiarkan terus melakukan pertemuan di dekat kawanan lumba-lumba, peneliti khawatir spesies terancam secara tak langsung. NOAA memperingatkan bahwa berenang dengan lumba dapat menjadi bentuk pelecehan pada populasi lokal spesies, karena waktu istirahat hewan berkurang

“Wisatawan harus mengubah keinginannya, untuk berenang dengan lumba-lumba. Cukup dengan melihat lumba-lumba saja dan tidak berenang dengan lumba-lumba liar,” jelas Ann Garrett perwakilan dari NOAA.

Badan ini juga mengumumkan potensi rencana masa depan yang akan memberlakukan pembatasan waktu di teluk untuk melindungi habitat spesies kala siang hari.

“Orang-orang menangkap lumba-lumba dengan tongkat selfie,” ujar Victor Lozano, pemilik Wisata lumba-lumba di Oahu.

Anda dapat melihat gambaran para wisatawan yang mendekati lumba-lumba dalam video di bawah.

(K.N Rosandrani / mnn.com, phys.org)