Lindungi Tanah Adat Papua (Seruan Gembala Uskup John Philips Saklil)

By: Admin Serui Voice News

13 Februari 2016

Lindungi Tanah Adat Papua
(Seruan Gembala Uskup John Philips Saklil)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Mgr. John Philips Saklil, Pr

Uskup Keuskupan Timika Mgr. John Philips Saklil Pr dalam khotbahnya berpesan kepada Bupati Mimika Eltinus Omaleng supaya melindungi Tanah Amungme dan Kamoro agar masyarakat dapat berkebun, tidak mudah dijual kepada masyarakat pendatang atau investor. Pesan ini disampaikan pada misa penetapan kuasi paroki santa Sisilia, SP2 pada minggu 7 Februari 2016.
Uskup John mengungkapkan bahwa, semua pejabat di Papua termasuk di kabupaten Mimika lahir dari karya Gereja. Ini merupakan suatu hasil karya Gereja yang luar biasa, karena di Papua terdapat pejabat di mana-mana. Di harapkan para pejabat ini bisa buat sesuatu untuk masyarakat. “Kami sangat senang sekali bahwa anak-anak Papua dapat menjadi pejabat dan pemimpin di daerahnya sendiri.”

Saya (Uskup) atas nama umat meminta kepada para bupati bekerja sama dengan DPRD untuk memimpin daerah Papua dengan baik. “Jangan kamu adik kakak berkelahi lagi. DPRD jangan musuh dengan bupati. Bupati jangan musuh dengan pejabat. Ini namanya cerita Mati,” kritik Uskup.

“Para Bupati bagunglah hubungan kerja sama dengan Sekda-Sekdamu, dengan SKPD-SKPD dan dengan para anggotan DPRD. Untuk bersama membangun daerah Papua. Jangan sibuk dengan urusan jabatan. Setiap hari pejabat sibuk bicara jabatan. Bupati tolong tertipkan supaya kerja layani masyarakat. Jangan sibukkan diri dengan urusan-urusan internal yang akhirnya korbankan kepentingan melayani masyarakat.”
Uskup lebih lanjut berbicara bahwa secara umum dan khususnya kabupaten mimika sangat luar biasa karena pendapatan daerahnya cukup besar. Oleh karena itu, “saya (Uskup) minta tolong lindungi tanah-tanah dusun masyarakat lokal. Jangan karena arus perkembangan penduduk dari luar ke dalam dan investor datang begitu banyak, akhirnya masyarakat dengan mudah menjual tanah mereka. Pemerintah harus proteksi tanah-tanah adat. Mengapa tindakan proteksi ini penting? Sebab masyarakat kita ini tidak berpendidikan baik, mereka tidak mempunyai kemampuan khusus untuk lindungi tanah adatnya, mereka juka kurang skill. Oleh karena itu tindakan proteksi sangat penting dilakukan,” katanya.

Akibat menjual tanah masyarakat kehilangan tanah dan berkebun jauh. Cotoh kasus: Masyarakat koperapoka dulu memiliki dusun di sekitar rumah untuk berkebun. Tapi sekarang tanah sudah habis dijual kepada masyarakat pendatang. Akhirnya sudah tidak bisa berkebun di sekitar rumah dan terpaksa harus pergi berkebun jauh, kata Uskup.
Akibat menjual tanah berdapampak pada sistem peredaran uang, yang mana masyarakat pendatang menguasai, sementara masyarakat lokal tidak bisa berbuat apa-apa. Perekonomian di daerah ini dikuasai oleh masyarakat pendatang. Pasar dikuasai oleh masyarakat pendatang. Masyarakat lokal tidak berbuat apa-apa, ucap Uskup.

Kepada para bupati, Uskup menegaskan sebagai putra daerah harus buat bagaimana supaya tanah ini, menjadi tanah berkat bagi masyarakat Papua yang ada di Papua. “Tanah ini sangat luar biasa. Tanpa para bupati memberikan uang, tanah ini sudah mengalirkan uang. Banyak orang datang karena bisa hidup di sini, Ucap Uskup.”
Orang yang mempunyai uang mudah saja menggusur pemilik tanah. Saya minta kalau bisa masyarakat itu di lindungi. Kami orang Papua, kepala jual tanah bapa bupati. Kami nomor satu jual tanah. Yang salah bukan pembeli tapi penjual, kritik Uskup. Oleh karena itu saya (USKUP) berharap bupati tolong buat perda. Perda khusu yang mengatur tentang tanah-tanah dusun. Buatlah aturan yang melarang untuk tidak diperkjual belikan dan buatkan sertifikatnya.

Secara terpisah pastor Honaratus mengungkapkan bahwa bentuk proteksi tanah yang paling baik dilakukan adalah dengan sistem kontrak. Karena sistem ini tidak menghilangkan Hak milik Tanah masyarakat, sementara masyarakat pendatang dan investor hanya punya Hak Pakai.

Uskup lebih lanjut mengungkapkan bahwa “amat disayangkan bahwa yang paling paranya adalah tanah bukan lagi dibeli dari orang Papua. Tapi dari orang pendatang dan orang yang tingal lama di daerah rantaunya. Mereka gila-gilaan menjual tanah dengan jangkauan harga yang mahal.

Sebagai anak Kamoro, dan Uskup Timika di Papua, Uskup meminta Kepada orang Kamoro dan orang Papua untuk tidak lagi jual tanah. “Orang Kamoro jangan jual tanah lagi. Bukan saja orang kamoro tapi semua Orang Papua jangan jual tanah. Jual tanah itu dosa, karena tanah itu mama.”

Posted: Serui Voice News (SVN)

Iklan

Penulis: Bennyw10

I am a man who likes adventure and independence, wants to share information and the internet business

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s