Lemasko Tuntut Freeport Terkait Kematian Massal Ikan

PT Freeport Indonesia di Timika – Jubi/IST
PT Freeport Indonesia di Timika – Jubi/IST

Timika, Jubi/Antara – Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (Lemasko) menuntut PT Freeport bertanggung jawab atas kematian massal berbagai jenis ikan dan biota sungai lainnya di kali-kali sepanjang ujung tanggul barat hingga Cargo Dok Pelabuhan Amamapare, Kabupaten Mimika, Papua.

Wakil Ketua I Lemasko Georgorius Okoare di Timika, Rabu (13/4/2016), mengatakan dalam satu pekan terakhir terjadi kematian jutaan ekor ikan, kepiting, udang dan biota sungai lainnya di kali-kali sepanjang ujung tanggul barat (area pengendapan tailing Freeport) hingga Pelabuhan Amamapare.

 Pekerja Laporkan Ribuan Ikan Ditemukan Mati di Areal PT Freeport Indonesia

Kematian jutaan ekor ikan itu, katanya, menimbulkan polusi udara yang sangat besar dirasakan dampaknya oleh masyarakat Suku Kamoro yang bermukim di Pulau Karaka dan ujung tanggul barat.“Kami merasa bahwa Freeport sedang berupaya membunuh masyarakat Suku Kamoro yang ada di sekitar area konsesinya. Ini ada apa? Masa di sungai-sungai lain di wilayah barat dan timur Mimika tidak ada ikan-ikan yang mengapung dan mati, tapi hanya terjadi di sungai-sungai ujung area pengendapan tailing Freeport,” katanya.
Pihaknya menduga kematian jutaan ekor ikan ini akibat limbah beracun. “Mungkin mereka membuang mercuri ke sungai. Kami secara tegas menolak opini yang menyatakan bahwa ini ada kaitannya dengan perubahan iklim dan kehabisan plankton. Pertanyaannya, mengapa di sungai-sungai lain tidak ada kejadian seperti ini?” katanya bertanya.
Dari pantauan Lemasko, kematian massal ikan tersebut terjadi selama kurun waktu satu pekan terakhir. Lokasi terparah, katanya, terdapat di Sungai Yamaima hingga kawasan Cargo Dok Pelabuhan Amamapare, Distrik Mimika Timur Jauh.

“Masyarakat kami tidak bisa mencari ikan lagi, ruang gerak mereka kini semakin terjepit. Di kali-kali ikan yang mati seperti sampah plastik. Bau menyengat di mana-mana, sampai di hutan-hutan bakau. Sekarang ada masyarakat yang sudah mulai batuk-batuk karena menghirup bau busuk dari bangkai ikan,” ujarnya.
Terhadap kejadian tersebut, Lemasko menuntut Departemen Lingkungan Hidup PT Freeport untuk segera membersihkan sampah-sampah ikan yang berserakan di sepanjang sungai-sungai di ujung tanggul pengendapan tailing.

Lemasko juga mendesak Badan Lingkungan Hidup Pemkab Mimika agar turun meninjau kasus tersebut.

“Freeport tidak bisa cuci tangan terhadap kejadian ini. Dia harus bertanggung jawab. Kami minta Freeport untuk mengundang lembaga adat guna mengklarifikasi masalah ini. Kami tidak mau masyarakat Kamoro terus menjadi korban dari segala macam aktivitas Freeport,” katanya.
Lemasko memberi batas waktu kepada Freeport untuk segera menuntaskan masalah tersebut dalam pekan ini. Jika hingga pekan depan persoalan tersebut tidak juga diselesaikan, Lemasko mengancam akan menutup sementara operasional perusahaan tambang tersebut.

“Kalau permintaan kami tidak juga digubris oleh Freeport, maka Senin atau Selasa pekan depan kami akan tutup sementara Freeport. Kami masyarakat Kamoro yang akan tutup Freeport kalau dia tidak peduli dengan masalah ini,” katanya.
Hingga berita ini disiarkan, pihak Freeport belum memberikan konfirmasi, namun upaya konfirmasi melalui saluran telepon sudah dilakukan. (*)

Iklan

Penulis: Bennyw10

I am a man who likes adventure and independence, wants to share information and the internet business

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s