Mengapa Doa Musa yang Mengancam Dikabulkan Tuhan?

 Mon April 4th, 2016
 672

Mengapa Doa Musa yang Mengancam Dikabulkan Tuhan? Sumber : Jawaban.com

Ada sebuah kisah tentang seorang antropolog yang melakukan percobaan pada anak-anak di Afrika. Anak-anak ini diminta untuk lomba lari menuju sebuah pohon. Di bawah pohon itu ditaruh sebuah keranjang yang berisi banyak buah dan anak yang menang dari perlombaan itu akan mendapatkan seluruh isi keranjang buah tersebut.

Hal yang mengejutkan si antropolog ini adalah ketika perlombaan dimulai anak-anak ini serempak bergandengan tangan dan lari bersama-sama menuju keranjang buah tersebut. Setibanya mereka di bawah pohon, mereka membagi dan menikmati buah di dalam keranjang tersebut bersama-sama. Sang antropolog bertanya, “Bukankah jika kalian melakukannya sendiri maka yang menang akan dapat menikmati lebih banyak buah ketimbang kalian harus membagi untuk dimakan bersama-sama?” Mereka menjawab: “Ubuntu: Bagaimana kami dapat bersukacita kalau salah satu dari antara kami ada yang bersedih?” Ubuntu dalam bahasa Afrika artinya I am because we are (saya menjadi seperti sekarang ini karena kami ada). Mereka mengerti bahwa hal-hal yang baik itu bukan untuk dinikmati sendiri melainkan untuk dinikmati bersama.

Hal menjadi seperti pesan penting bagi kita yang berpikir kesuksesan adalah karena hasil usaha kita sendiri. Posisi, gelar, jabatan, yang kita miliki sekarang adalah hasil usaha sendiri. Bahkan kita bawa pula sikap ini ke gereja. Kita pikir kita paling memuliakan Tuhan kalau kita lebih baik dari orang lain, kalau kita menjadi nomor satu. Tetapi ini memuliakan Tuhan atau memuliakan diri?

Dalam bagian kitab Keluaran yang kita baca, konteksnya adalah persis setelah Musa menerima 10 perintah Allah dalam bentuk loh batu, bangsa Israel melanggar perintah Allah yang pertama: Jangan ada padamu allah lain dari pada-Ku dan jangan menyembah berhala. Mereka membuat anak lembu emas dan menyembahnya. Tuhan murka, 3000 orang mati. Setelah itu murka Tuhan surut.

Setelah semuanya selesai, Musa bukan tipe orang yang setelah selesai menghukum lalu puas. Musa justru ingin mengadakan pendamaian bagi mereka. Musa adalah tipologi dari Yesus Kristus dalam Perjanjian Lama. Kristus mewakili umat-Nya menanggung dosa mereka, Musa pun mengadakan pendamaian bagi dosa bangsa Israel. Musa berkata pada Tuhan, “bangsa ini dosanya besar karena mereka telah membuat anak lembu emas menggantikan Allah, tetapi kiranya Tuhan sekarang berkenan mengampuni dosa mereka.” Kalimat Musa belum selesai. Musa separuh ‘mengancam’, “jika tidak hapuskanlah namaku dari kitab yang pernah Engkau tulis itu”.

Bangsa Israel bukan satu dua kali berbuat dosa, bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk, keras kepala, tidak mau taat pada tuannya. Musa memimpin 1 juta orang seperti ini. Waktu orang Israel sudah dipimpin keluar dari Mesir, di padang gurun mereka bersungut-sungut. Kali lain lagi mereka mengatakan bahwa mereka lebih senang di Mesir meskipun diperbudak. Terhadap bangsa yang seperti ini Musa justru berkata, “Jika Tuhan tidak mau mengampuni mereka maka hapuskanlah namaku”, Musa memilih bangsa Israel yang selamat. Pemimpin model apa Musa ini? Tetapi jawaban Tuhan konsisten, yang bersalah dialah yang harus dihukum. Musa menjadi gambaran Tuhan Yesus Kristus yang mati untuk menanggung dosa kita padahal Ia tidak bersalah. Ia rela dipaku diatas kayu salib demi kita orang-orang yang tidak layak. Ketika Tuhan Yesus mau ditangkap di taman Getsemani, Yesus maju menyerahkan Diri-Nya. Yesus pasang badan melindungi murid-murid-Nya.

Allah berkata pada Musa bahwa suatu saat bangsa Israel akan menerima hukuman mereka. Tuhan tahu isi hati Musa yang membawa bangsa Israel keluar. Waktu Musa menjadi pangeran di Mesir dan Musa melihat orang Ibrani diperlakukan tidak berperikemanusiaan oleh mandor Mesir, Musa membunuh mandor ini. Musa mencintai umat Tuhan. Membunuh itu dosa tetapi hati Musa begitu mencintai umat Tuhan hingga ia dipakai Tuhan memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir.

Di masa saat ini, kita juga akan menemukan jemaat gereja yang serupa seperti bangsa Israel: menjengkelkan, aneh dan sulit diberi masukan. Ada juga orang yang bertahun-tahun sulit melepaskan dosanya. Tetapi bukannya sabar seperti teladan Musa, kita seringnya memilih menyerah dan berpikir perjuangan itu hanya membuang-buang waktu, tenaga dan perasaan. Kita seringkali masa bodoh kepada saudara kita yang berdosa apalagi pada mereka yang sudah merugikan kita.

Sementara saat membaca kisah perjuangan Musa, ia tidak menjadi jemaat biasa saja tetapi ia bersedia memimpin bangsa Israel. Ketika Musa melihat sifat bangsa Israel yang brengsek, Musa tidak meninggalkan mereka. Ia malah mau berkorban karena mereka adalah umat Tuhan.

Dalam Keluaran 20 dituliskan, “Akulah yang menuntun umat-Ku keluar dari Mesir”. Namun sekarang di bagian ini Tuhan mengatakan, “Bangsa yang engkau (Musa) pimpin keluar dari Mesir”. Tuhan itu kudus, Ia tidak tahan jika ada umat-Nya yang tidak kudus. Tetapi Tuhan tetap mengingat perjanjian-Nya kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Mereka akan tetap masuk ke dalam tanah Perjanjian tetapi Tuhan berkata bahwa Ia tidak akan berjalan di tengah-tengah mereka karena mereka adalah bangsa yang tegar tengkuk. Berkat dan kutuk Tuhan nyatakan dalam 1 kalimat. Berkatnya adalah mereka akan masuk ke negeri yang penuh susu dan madu tetapi Ia tidak akan menyertai mereka!

Mendengar ancaman yang mengerikan ini dalam ayat 4 bangsa Israel berkabung. Mereka tidak mau memakai perhiasan. Itu belum cukup. Tuhan mengulang lagi, “Kamu adalah bangsa yang tegar tengkuk, kalau Aku berjalan di tengah-tengah kamu sesaat saja, Aku akan membinasakan kamu. Tinggalkan perhiasanmu, Aku akan melihat apa yang akan Kulakukan.” Sejak itu mereka tidak pernah lagi memakai perhiasan (ayat 6). Mereka takut karena Tuhan tidak mau menyertai mereka. Mereka mengerti satu hal yaitu percuma kita dapat semua berkat Tuhan tetapi Tuhan tidak mau menyertai. Ini adalah kecelakaan paling besar. Jika Tuhan melepaskan kita untuk melakukan apa yang kita mau, celakalah kita. Mungkin Tuhan menegur kita melalui orang-orang di sekitar kita, berbahagialah jika Tuhan masih mau memakai orang lain untuk menyatakan kesalahan kita. Betapa mengerikan jika Tuhan sudah tidak mengakui kita sebagai umat-Nya lagi.

Saat hidup kita makin lama makin makmur, berhati-hatilah! Apakah Tuhan masih menyertai kita? Apakah kita peka akan hal ini? Saat kita makin sibuk mungkin kita makin lupa untuk membaca Alkitab dan berdoa. Kita makin menjauh dari Tuhan dan merasa biasa. Saat itu kekayaan kita bertambah tetapi Tuhan tidak menyertai kita. Lebih baik kita miskin, di padang gurun, tetapi Tuhan menyertai kita daripada kita hidup makmur, masuk negeri yang penuh susu dan madu tetapi Tuhan tidak menyertai.

Hati bangsa Israel mulai berbalik kepada Tuhan. Musa membuat kemah sementara dimana Musa akan bertemu dengan Tuhan dan dimana orang Israel dapat mencari Tuhan diluar perkemahan. Tidak seperti kita sekarang, kita dapat berdoa kepada Tuhan dimana saja dan kapan saja. Bangsa Israel kembali sujud di hadapan Allah dan taat kembali. Musa berbicara dengan Tuhan berhadapan muka dengan muka seperti seorang yang bicara kepada teman. Ini adalah semacam Christophany, yaitu Kristus menampakkan Diri dalam Perjanjian Lama karena tidak ada seorang pun yang dapat melihat Tuhan kecuali Anak Tunggal Allah. Jika Musa bisa melihat Tuhan ini pasti karena Kristus yang belum berinkarnasi menjadi manusia, Ia mengambil bentuk yang dapat dilihat dan Ia bercakap-cakap dengan Musa. Musa meminta Tuhan untuk memberitahukan jalan-Nya supaya ia mengenal Tuhan dan mendapat kasih karunia. Musa juga meminta Tuhan mengingat kalau bangsa Israel itu adalah umat-Nya. Tuhan sudah tidak mau menyertai umat-Nya tetapi Musa meminta lagi akan hal ini. Musa tidak bisa berbahagia kalau bangsa Israel yang lain bersedih seperti anak-anak Afrika yang tidak bisa menikmati keranjang buah mereka sendirian.

Musa berkata “Jika Engkau tidak mau membimbing kami, jangan suruh kami berangkat dari sini.” Musa konsisten, Ia tidak memikirkan dirinya sendiri. Doa Bapa kami pun mengajarkan hal ini. Musa meminta penyertaan Tuhan untuk seluruh bangsa Israel. Waktu Tuhan menyelamatkan kita jangan senang jika hanya kita yang selamat. Kekristenan bukan bicara berkat Tuhan hanya pada diri sendiri. Kita menjadi satu dengan umat Tuhan. Kita satu tubuh.

Tuhan melihat doa Musa sesuai dengan isi hati Tuhan (ayat 17) maka Tuhan mengabulkannya. Musa mendapat kasih karunia Tuhan dan Musa menggunakan kesempatan ini supaya Tuhan mengingat seluruh umat Tuhan yang lainnya. Dan Tuhan menjawab doa Musa. Bukan hanya itu, Musa meminta untuk melihat kemuliaan Tuhan. Musa menerima jawaban Tuhan atas doanya yaitu pada saat transfigurasi. Musa melihat kemuliaan Tuhan dan ia mendapat bagiannya yang kekal.

Ada dua hal dalam diri Musa, yaitu pertama, ia tidak memikirkan kepentingan pribadinya sendiri melainkan mengutamakan kepentingan umat Tuhan. Kedua, ia hanya mau melihat kemuliaan Tuhan. Ini kerinduan Musa.

Sebagai umat Tuhan dalam gereja, apakah kita peduli kepentingan umat Tuhan dan apakah kita dalam hidup ini hanya mau mencari kemuliaan Tuhan saja? Jika kita mau doa kita dijawab oleh Tuhan, doakanlah hal ini.

Apakah artikel ini memberkati Anda? Jangan simpan untuk diri Anda sendiri. Ada banyak orang di luar sana yang belum mengenal Kasih yang Sejati. Mari berbagi dengan orang lain, agar lebih banyak orang yang akan diberkati oleh artikel-artikel di Jawaban.com seperti Anda. Caranya? Klik di sini.

Sumber : Grii-ngagel.org/jawaban.com/ls

Iklan

Penulis: Bennyw10

I am a man who likes adventure and independence, wants to share information and the internet business

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s