Wajib Anda Ketahui, Ini 5 Kelebihan yang Hanya Dimiliki Mama Papua

By 10:15:00
http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://www.dihaimoma.com/2017/05/wajib-anda-ketahui-ini-5-kelebihan-yang.html&layout=standard&show_faces=false&width=100&action=like&font=tahoma&colorscheme=light

Dalam kehidupan, mama sangat berjasa dalam membesarkan dan mendidik manusia. Tanggung jawab dan peran mama berlangsung sejak kita dalam kandungan sampai dengan kita dewasa. Bukan hanya itu, saat ini bebagai penelitian telah menunjukan bahwa pengaru genetik mama lebih besar dalam diri seseorang dari pada bapak. Itulah sebabnya, terkadang mama menjadi tokoh paling dikasihi selain bapak dalam sebuah keluarga. Pada dasarnya semua para mama di dunia memiliki keistimewaan yang sangat dikagumi oleh anak-anaknya. Satu-satunya malaikat wakil Tuhan yang dapat kita temui di bumi ini adalah Mama.

Di Papua, mama Papua menjadi indikator utama penentu berkembang atau tidaknya generasi Papua. Peran dan tanggung jawab mama Papua bukan hanya soal apa yang menjadi kodrat seorang Ibu rumah tangga tetapi lebih dari itu. Saat ini mama Papua bertanggungjawab atas berbagai hal yang mungkin melebihi mama lain di dunia ini. Kelebihan yang hanya dimiliki mama Papua inilah yang membuat Dihai berbagi 5 kelebihan mama Papua dalam artikel ini.

1. Mengembangi peran ganda dalam kehidupan rumah tangga
Dihaimoma Menulis
Sumber Foro:agustinuswibowo.co
Peran mama Papua bukan hanya menjalankan tanggung jawab yang menjadi kodrat seorang ibu rumah tangga. Ia harus menggarap kebun yang notabenenya berjarak ratusan kilo meter dari rumah dengan berjalan kaki. Menjual hasil kebun tersebut untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier dalam keluarga. Itu kalau mama Papua di wilayah Gunung Papua. Mama Papua di wilayah Pantai, ia harus mendayung perahu untuk memancing ikan, tokoh sagu, menggarap kebun dan menjual hasilnya di pasar.

Setelah pulang mengerjakan hal-hal di atas, ia harus masak dan menyediakan makanan untuk keluarga yang terkadang belasan orang dalam serumah. Orang Papua kental dengan hirarki kekeluargaan. Hal itu membentuk mereka untuk tinggal bersama dalam satu rumah. Mama Papua harus mampu menyanggupi kebutuhan makan dan minum bagi belasan orang. Hal ini tidak seperti daerah manapun yang dalam satu rumah hanya dihuni 3 samapi 5 orang. Selain itu, ia harus membiayai anak-anaknya untuk mengenyam pendidikan.

Satu hal yang pasti dalam persoalan makan dan minum, mama Papua sama sekali tidak pernah hitung-hitungan. Kecuali soal bekerja.
2. Tidak Pernah mengeluh dalam mengerjakan tanggung jawabnya
Meski mengembangi berbagai tanggung jawab, mama Papua jarang sekali mengeluh. Pekerjaan-pekerjaan itu menyatuh dalam pribadi mama Papua dan membentuknya menjadi rutinitas yang wajib ia lakukan. Artinya, ia tahu dan paham bahwa semua itu dilakukan atas kesadaran akan kebutuhan dalam keluarga. Bukan atas paksaan apa lagi tekanan dan mengejar imbalan.

Cobah saja jika mama Papua suka mengeluh dan pandai mengoperasikan media sosial seperti cewek-cewek Papua saat ini! Berapa juta status yang akan berhamburan pada dinding media sosialnya. Mama Papua tetaplah yang terbaik dalam kesabaran dan keibuannya.

Mama Papua juga tidak pernah meminta ini dan itu. Ia mengerjakan apapun sebagai bagian dari tangung jawabnya. Kekuatan jiwa dan fisik yang menyatuh bersamanya membentuk Mama Papua sebagai sosok mama yang patut dikagumi. Lagu tentang ibu, memberi tanpa mengharap kembali merupakan bagian yang benar-benar melekat pada sesosok Mama Papua dan hal itu bukan hanya berlaku dalam keluarganya tetapi juga untuk orang lan. Kasih, merupakan kata yang identik dengan mama Papua.
3.Mendidik anak menjadi manusia dewasa, bukan pendendam dan main perasaan
Ketika melihat dikekinian kita akan menemukan manusia-manusia yang cepat ngambek. Disindir sedikit, langsung ngambek. Anda harus tahu di Papua terdapat ratusan bahkan ribuan masalah yang ribuan kali lipat lebih besar dari masalah-masalah di kota lain. Luar biasanya, meskipun kadang tegan dan harus meminta nyawa, masalah itu tidak pernah berlajut sampai berbulan-bulan.

Kasih sayang yang identik dengan mama Papua membentuk generasi yang spontan, apa adanya, dan transparan. Hal semacam ini terlihat ketika ada masalah antara orang Papua sendiri. Kebanyakan masalah hanya bisa ditangani secara kekeluargaan atau hukum adat. Selain itu, orang Papua itu selalu tampil apa adanya dalam memosisikan diri.

4. Mama Papua paham bahwa bahagia itu sederhana. Apa yang ada hari ini kita nikmati dan besok kita akan cari lagi. Bukan menampung kekayan sebanyak-banyaknya yang juga pada ujungnya turut menciptakan masyarakat kapital, kaya terus kaya dan yang miskin terus miskin.
Dihaimoma Menulis
Sejak kecil mama Papua tidak pernah mengajari anaknya untuk menyimpan kekayaan tetapi memberi dan berbagi. Kasih adalah kekayaan utama dalam benak mama Papua. Itulah sebabnya jangan heran ketika anda ke Papua anda akan sulit membedakan antara orang Papua yang kaya dan yang miskin.
Ya, rata-rasa generasi Papua sama. Mungkin ini yang disebut orang sosial dengan masyarakat agraris, yang ada pakai dan kalau habis kita ambil lagi di alam. Alam Papua itu kaya, jangan anda hitung-hitungan soal makan minum. Sayangnya, kebudayan ini sering dipandang konsumtif dan tidak produktif. Salah satunya, Jusuf Kalla yang pernah mengatakan itu pada tahun 2012 lalu.
“Jadi, pusat menyubsidi Papua kurang lebih Rp 14 triliun per tahun. Jadi, jangan anggap tidak adil pusat ke Papua. Politik luar biasa dikasih kekuasaan, ekonomi luar biasa dikasih. Apa yang terjadi? Budaya konsumtif Papua terlalu tinggi dan budaya produktif terlalu rendah. Orang Papua merasa tidak sejahtera.
“Teman-teman kita di Papua produktivitas rendah karena kebutuhannya sedikit. Dengan baju sederhana, makan sederhana cukup. Minta maaf, tiap awal bulan minumnya (minuman keras) banyak. Korupsinya juga tinggi di Papua”
Soal mabuk memang benar, beberapa orang Papua suka Mabuk tatapi ingat tidak semua orang Papua suka mabuk. Selain itu, satu hal yang JK tidak paham adalah masyarakat agraris di Papua justrus menjaga keseimbangan alam di Papua. Masyarakat Papua tidak mengambil hasil alam melebihi kebutuhan mereka dan menyimpannya sisanya di alam. Mama Papua mengajari anak-anaknya tidak seperti kampitalisme yang menganut perlunya menyimpan kekayaan untuk tujuh generasi mendatang, sehingga menciptakan kelas kaya dan miskin di masyarakat.
Justru dari budaya kapital tabung menabung tujuh turunan, dan memanfaatkan alam sebanyak-banyaknya demi dan untuk memuaskan keinginan melalui perusahaan-perusahaan inilah yang menjadi wabah dalam kehidupan masyarakat agraris, khususnya Papua.
Mama Papua paham alam adalah tempat mengambil dan menyimpan kekayaan yang utuh dan adil bagi keluarga dan anak cucunya. Jadi akan lebih sesuai jika masyarakat perkotaan yang merasa miskin dan kurang cukup yang hidup kebudayaan tabung menabung tuju turunan tetapi dalam konteks Papua sistem ini nampaknya kurang singkron dengan kebiasaan masyarakatnya. Dengan demikian kesalahan pak JK terletak pada paradikma yang menyamakan kehidupan ibu kota dengan  kehidupan masyarakat agraris.
5. Jiwa Mama Papua yang tangguh membentuknya menjadi pribadi yang mampu mengampuni tanpa dendam dan benci. Ia tahu, kasih sayang itu harus mampu berkorban.Tidak ada satupun yang disebut kasih tanpa mengasihi dan memberi dengan tulus.
 
Dihaimoma Menulis
Sumber foto: .papua.us
Pada tahun 2012 komnas Perempuan mencatat Papua menempati posisi tertinggi dalam kasus kekerasan terhadap perempuan. Jumlahnya mencapai 1.360 kasus untuk setiap 10.000 perempuan. Dan rata-rata kekerasan itu terjadi dalam kehidupan rumah tangga.
Satu hal yang selalu identik dengan mama Papua adalah kesabaran dan cinta kasih yang mampu membentuknya menjadi pribadi yang sanggup memaafkan dan mengasihi. Coba anda perhatikan, meskipun mama Papua kadang dipukuli dengan cara yang tidak manusiawi, keesokan harinya ia akan melakukan aktivitasnya tanpa beban. Semua itu dilakukan bukan untuk siapa dan apa, tetapi hanya satu keinginannya. Supaya ikatan keluarga, tetap utuh  dan padu untuk selamanya.

Dengan demikian itulah 5 poin kelebihan yang hanya dimiliki Mama Papua yang Dihai dapat berbagi pada artikel kali ini. Jika ada yang perlu ditambahkan, tinggalkan pada kolum komentar di bawah ini. Terima kasih,

Beberapa Sumber bacaan:
[1]Antara news.com online, edisi selasa, 21 Mei 2013. Papua tertinggi dalam kasus kekerasan terhadap perempuan. Diaksese pada pukul  4.12 wib.
[2]Kompas online, edisi 16/07/2012. JK: Turunkan Budaya Konsumtif di Papua. Diaksese pada pukul  4.12 wib.

Atlas Sawit Papua: Dibawah Kendali Penguasa Modal

Atlas Sawit Papua ini juga menyajikan informasi keberadaan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang telah menguasai lahan skala luas dan mengendalikan industri kelapa sawit di Tanah Papua.

Atlas Sawit Papua: Dibawah Kendali Penguasa Modal adalah potret industri ini hingga akhir tahun 2014 dan untuk meningkatkan pemahaman tentang siapa aktor pemainnya dan dimana daerah daerah yang menjadi minat investor.

Potret daerah yang dicantumkan dalam atlas tersebut antara lain, Kabupaten Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Maibrat, Kabupaten Teluk Bintuni dan Teluk Wondama, Kabupaten Fakfak, Kabupaten Manokwari dan Tambrauw, Kabupaten Keerom, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Waropen, Kabupaten Nabire, Kabupaten Mimika, Kabupaten Asmat, Kabipaten Mappi, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Merauke, Kabupaten Boven Digoel.

Tujuan dibuatnya atlas ini untuk menyajikan gambaran tentang setiap perusahaan sawit yang memiliki ijin operasi di Tanah Papua (Papua-Papua Barat), dilengkapi dengan peta lokasi, informasi tentang pemilik perusahaan dan jenis perizinan yang dimiliki.

Jika sebuah perusahaan kelapa sawit ingin mengajukan permohonan izin, biasanya harus mendekati Bupati. Jika secara prinsip Bupati setuju, mereka akan mencari lahan yang cocok dan mengeluarkan izin lokasi. Kemudian perusahaan akan membutuhkan rekomendasi di tingkat provinsi.

Atlas Sawit Papua ini juga menyajikan informasi keberadaan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang telah menguasai lahan skala luas dan mengendalikan industri kelapa sawit di Tanah Papua. Nama lokal dan nama pro lingkungan dipakai perusahaan sebagai pencitraan. Seperti; hijau lestari, matoa lestari, agro lestari, sawit lestari, agung sejahtera, nabire baru, sarmi sejahtera dan sebagainya.

Tahun 2014 tercatat grub perusahaan bisnis sawit punya lebih dari satu anak perusahaan di Tanah Papua (majalah forbes 2014), antara lain:

  1. Musim Mas Group milik Bachtiar Karim (2 Miliar USD), punya 6 perusahaan bernama lokal dengan luas lahan yang dikuasai sebesar 163.000 hektar.
  2. Raja Garuda Mas Group milik Sukanto Tanoto (2,11 miliar USD)
  3. Sinar Mas Group milik Eka Tjipta Widjaja (5,8 miliar USD)
  4. Salim Group milik Anthony Salim (5,9 miliar USD)
  5. Rajawali Group milik Peter Sondakh (2,3 miliar USD)

Perusahaan sawit besar yang juga punya usaha besar di Tanah Papua antara lain:

  1. Rajawali Group yang sedang mengusahakan perkebunan tebu di daerah merauke
  2. Austindo Nusantara Jaya Group milik George Tahija yang sedang mengembangkan industri pengolahan sagu di daerah Matemani, Sorong Selatan dan pengusaha listrik di Tembaga Pura Mimika.
  3. Perusahaan kayu lapis Indonesia Group yang memiliki bisnis pembalakan kayu dengan areal terluas di Tanah Papua.
  4. Medco Group yang aktif juga dalam bisnis hutan tanaman industri, pabrik kertas dan pertambangan daerah di Papua.
  5. Perusahaan Modal Asing (PMA) Korindo Group asal Korea Selatan yang sedang mengusahakan eks lahan pembalakan kayu untuk perkebunan kelapa sawit
  6. Selain Korindo Group, ada lagi perusahaan modal asing melakukan bisnis sawit di Tanah Papua, antara lain; Tadmax Group asal Malaisya dan Pacific Interlink asal Yemen beroperasi di Boven Digoel, The Lion Group asal Malaisya, Noble Group berkantor di Hongkong dan Carson Cumberbatch asal Sri Lanka yang mengelola perkebunan kelapa sawit di Nabire. Sedangkan perusahaan kelapa sawit milik negara hanya ada satu, yakni PTPN II Arso. Sebelumnya terdapat PTPN II Prafi, belakangan dikelola oleh perusahaan asal Cina, Yong Jing Investment.

Selain operasi perusahaan diatas, riset ini juga menemukan ada banyak perusahaan “misterius” yang mempelopori investasi dengan mendekati pemerintah daerah untuk mengurus izin perkebunan. Perusahaan-perusahaan ini biasanya beroperasi secara diam-diam dan menghindari ada informasi muncul dimuka umum. Mereka tidak punya situs web dan kantor mereka di Jakarta tanpa tanda indentifikasi apapun.

Silahkan download: ATLAS SAWIT PAPUA: DIBAWAH KENDALI PENGUASA MODAL

LP3BH: Perusakan Hutan di Papua Bermotif Politik?

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Papua Barat menilai perusakan hutan di Papua dan Papua Barat ada keterkaitan dan sarat dengan politik.

Menurut LP3BH, persoalan tegak atau tumbangnya hutan-hutan di tanah Papua, termasuk di wilayah Provinsi Papua Barat selama ini ternyata merupakan sebuah persoalan politik.

Disebutkan, hal itu dikarena sangat terkait dengan siapa yang memiliki power (kekuasaan) dalam membuat keputusan atas hutan? Siapa yang dirugikan atas keputusan tersebut? Siapa yang diuntungkan? Bagaimana relasi/hubungan kuasa antara para pihak dalam pengambilan keputusan, berkenaan dengan pengelolaan hutan tersebut di Tanah Papua.

“Ini adalah pandangan dan kesan yang saya dapatkan sebagai sebagai direktur LP3BH Merauke dalam mengikuti Pelatihan Analisis Anggaran Dalam Tata Kelola Hutan dan Lahan di Sorong hari ini (Senin, 14/11),” ujar Yan Warinussy melalui surel yang diterima media ini pada Senin (14/11/2016) dari Papua Barat.

Dengan demikian, kata Warinussy, dapat dipahami bahwa segenap upaya pengelolaan sumber daya alam hutan di Tanah Papua dewasa ini sangat erat kaitannya dengan trend/kecenderungan politik nasional dan daerah.

Dejelaskan, sehingga setiap calon kepala daerah di Tanah Papua, ketika akan maju dalam pertarungan politik di arena pemilihan kepala daerah (pilkada) kabupaten/kota dan provinsi. Maka melalui tim kerjanya pasti akan merumuskan sejumlah proposal dengan isu pengelolaan sumber daya alam yang dituangkan dalam visi dan missi calonnya.

Kemudian akan diusulkan untuk mendapat dukungan pendanaan kepada salah satu atau salah dua atau lebih penyandang dana.

“Pada akhirnya, ketika calon yang diusung menang dalam pilkada tersebut, maka konsesi/ijin-ijin dalam konteks pengelolaan sumber daya alam hutan atau pertambangan mineral misalnya akan didapatkan oleh si penyandang dana kandidat tersebut,” ungkap Warinussy.

Sementara, kat dia, masyarakat adat sebagai penguasa bumi di daerah yang menjadi lokasi kegiatan tersebut sama sekali tidak mengetahui apa gerangan kegiatan yang sedang dan akan dilaksanakan di kampungnya dan sama sekali tidak dilibatkan dalam segenap tahapan proses tersebut.

“Sama halnya juga dengan aspek penganggarannya sama sekali tidak nampak berapa besar dukungan uang negara/daerah terhadap kegiatan tersebut dan berapa besar kontribusi yang akan dapat diserap oleh pemerintah daerah sebagai bagian dari sumber pendapatan asli daerah (PAD) setempat,” katanya.

Berkenaan dengan itu, LP3BH Manokwari akan ikut mendorong dimulainya upaya advokasi dalam konteks penganggaran yang terkait dengan tata kelola hutan dan lahan di Manokwari dan Provinsi Papua Barat.

Kata Yan, khususnya dari aspek penegakah hukum yang terkait dengan tata kelola anggaran, tata kelola lingkuangan/hutan/lahan serta tata kelola hukum dan tata kelola perijinan.

“LP3BH juga mendorong dibangunnya sinergitas gerakan dan jaringan kerjasama diantara semua kelompok masyarakat sipil dan adat di Provinsi Papua Barat dalam mendukung upaya advokasi anggaran dalam tata kelola hutan, lahan dan lingkungan sebagai bagian penting dalam konteks implementasi amanat Undang Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua sebagaimana dirubah dengan Undang Undang Nomor 35 Tahun 2008,” ujarnya.

Pewarta: Arnold Belau

Faknik, si Telaga Pasang Surut di Tengah Daratan Pulau Biak

Alvi Betmanto Sitepu • November 2, 2016

 

Tak hanya air laut di pantai yang memiliki fase pasang surut, Telaga Faknik di Kampung Samber Sub, Biak Barat juga ternyata bisa pasang surut. Padahal letaknya jauh dari pantai dan berada di tengah daratan Pulau Biak. Tersembunyi di balik hutan membuat tidak banyak orang yang mengetahuinya. Namun ada juga masyarakat Biak yang mengetahuinya dan bahkan beberapa orang sudah pernah memancing di sana.

telaga faknik

Untuk dapat ke Telaga Faknik kami kelompok Kombrane Mufa (#kombranemufa) sebagai kumpulan penikmat alam di Biak menempuh perjalanan selama 40 menit dengan menggunakan sepeda motor ke Kampung Samber Sub kemudian berjalan lagi sejauh lebih kurang 700 meter ke Telaga Faknik dari rumah penduduk. Perjalanan ke Telaga Faknik memiliki cerita tersendiri dan pastinya berbeda dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya bagi saya dan teman-teman.

GPS Hidup

Biasanya saat kami berjalan Yoseph selalu membawa GPS (Global Positioning System) untuk penunjuk lokasi maupun merekam jejak perjalanan kami. Tapi saat menuju telaga faknik Yoseph memang tak membawa GPS.

“Nanti kita pakai GPS hidup saja kakak”, katanya saat saya menanyakan GPS miliknya. GPS hidup adalah istilah untuk pemandu jalan. Untuk ke daerah-daerah yang jarang dikunjungi di Biak , GPS hidup adalah pilihan yang tepat. GPS hidup haruslah orang kampung setempat yang lebih mengetahui medannya dan juga untuk menghemat waktu perjalanan.

Saat sampai di Kampung Samber Sub, kami berhenti di salah satu rumah penduduk. Setelah berbincang akan maksud dan tujuan kami, dua orang bapak yang bermarga Meokbun pun bersedia menjadi GPS hidup (pemandu) ke Telaga Faknik.

Jalur Hijau

telaga faknik

Tak ada tangga ataupun jalan beton di sana, yang ada adalah jalan setapak yang membelah semak-semak nan hijau. Di bagian lain terlihat pemandangan beberapa petak kebun penduduk yang ditumbuhi tanaman Keladi dan beberapa jenis sayuran. Untuk sesaat saya berhenti mengutip buah berwarna merah dari tumbuhan semak berduri yang memiliki buah mirip murbei. Mmmf.. asam-asam manis, tapi lumayanlah untuk melepas dahaga sekaligus mengenang masa kecil yang suka mengutip buah murbei.

Telaga Pasang Surut

“Saat datang hujan de pu air ada naik, kalau datang kering (tidak hujan) dalam waktu lama, de pu air meti (surut/kering)” jelas Bapak Meokbun itu kepada kami. Inilah sebabnya mengapa Telaga Faknik saya sebut telaga pasang surut. Dari informasi yang diberikan oleh Pak Meokbun, bahwa Telaga Faknik bisa pasang ataupun surut. Tetapi bukan seperti pasang surut air laut yang terjadi akibat adanya gaya grafitasi bumi dan bulan, pasang surut air Telaga Faknik bergantung pada kondisi hujan dan tidak hujan. Saat kami ke sana air telaga sedang pasang, jadi air menggenangi semua lekukan telaga itu.

“Kalau de pu air meti (surut) air telaga menjadi kering dan terbentuk kolam-kolam kecil di sini,” kata Pak Meokbun dan Yoseph teman kami. Sepertinya saat pasang maupun surut, Telaga Faknik punya keindahan tersendiri.

Pemandangan serba hijau

telaga faknik

Tak ada warna lain selain warna hijau di Telaga Faknik. Mulai dari rerumputan, pepohonan sampai air telaga terlihat berwarna hijau. Kalau pun ada itu berarti warna baju kami sebagai pengunjung serta sebuah perahu kecil milik penduduk setempat. Warna hijaunya sangat menyegarkan mata. Bak vitamin A yang baik untuk kesehatan mata, nuansa hijau di Telaga Faknik menjadi vitamin bagi jiwa kami saat itu. Oh.. sungguh menyegarkan.

Perahu penyeberangan

telaga faknik

Jikalau selat punya kapal Fery yang biasa menjadi transportasi antar pulau, di Telaga Faknik punya perahu kecil yang memiliki peran yang sama. Sebuah perahu kecil menjadi alat kami menyeberangi dari tepi Telaga ke sebuah pulau kecil di sana. Bukan karena jauhnya menyebrang tapi sesungguhnya perahu itu tak mampu menahan beban yang berat, jadi intinya agar peralatan yang kami bawa tak tercelup ke dalam telaga.

Dua orang bapak yang bermarga Meokbun itu pun menahan perahu dan mengantarkan satu per satu dari kami, mulai dari Yoseph, Pay, Christin, Icha dan saya menyeberang ke pulau kecil itu. Tetapi satu teman kami Christen menyeberang tanpa perahu, karena memang sudah terlanjur basah saat kecebur ke dalam air saat kami berjalan di tepian telaga. Terlihat ke dalam air di lokasi penyebrangan hanya setinggi dadanya.

Telur burung angsa

“Itu telur burung Angsa, biasa mereka pagi atau sore hari terlihat ada di sini,” kata Pak Meokbun menjawab pertanyaan saya dan yoseph kepadanya. Sebelumnya saat teman-teman yang lain asyik berfoto ria, saya berjalan sendiri mencari lokasi untuk memotret telaga yang membelakangi matahari. Sesaat kemudian Yoseph dan Pay datang menghampiri. Yoseph bercerita saat berjalan menuju saya, ia melihat ada telur berwarna kebiru-biruan. Sempat kami bertiga menduga itu adalah telurnya ular sehingga sewaktu teman-teman yang lain menghampiri kami sempat merahasiakannya menjaga agar tidak ada yang panik. Ternyata dugaan kami salah setelah mendengar keterangan Pak Meokbun akhirnya kami pun tertawa lega.

Luasnya Telaga Faknik saat pasang

telaga faknik

Telaga faknik cukup luas saat airnya pasang (penuh). Butuh banyak waktu untuk mengetahui setiap sudutnya. Namun beberapa jam di sana sudah cukup bagi kami untuk menikmatinya. Satu hal yang pasti luasnya telaga faknik serta pemandangan akan hijau dan alaminya telaga faknik akan selalu melekat di hati kami.

Ada kemiskinan parah dibalik kemasyhuran Raja Ampat

Mainyafun, seperti beberapa tempat lainnya di Raja Ampat tidak punya sumber pengolahan air bersih. Air bersih didatangkan dari Waisai, pulau dimana banyak elit lokal dan pemilik cottage tinggal.
Anak-anak di Waisai, Raja Ampat – Dok. Jubi
Kyoshi Rasiey
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor :

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi – Asmiati Malik, seorang kandidat doktor dari Birmigham University mengungkapkan adanya kemiskinan yang sangat memprihatinkan dibalik masyhurnya  Raja Ampat, lokasi diving paling terkenal di dunia.

Selama Asmiyati melakukan riset doktoralnya di Raja Ampat, ia tinggal di Kepulauan Mainyafun, berjarak 4 jam menggunakan kapal motor dari pulau Waisai. Mainyafun dihuni oleh 55 keluarga.  Masing-masing keluarga memiliki 9-12 anggota keluarga.

Asmiyati, mengatakan risetnya mengkonfirmasi 20 persen dari 45.000 jiwa penduduk Raja Ampat hidup di bawah garis kemiskinan.

“Mereka ini tidak punya akses ke pendidikan, layanan kesehatan dan pasar,” kata Asmiyati mengenai kesimpulan risetnya.

Selain itu, lanjutnya, data 2015 menunjukkan rata-rata sebuah keluarga dengan empat hingga lima anggota keluarga menghabiskan lebih dari 800 ribu rupiah untuk makanan dan kebutuhan lainnya. Angka ini lebih tinggi 10 persen dari rata-rata nasional yang disebabkan oleh tingginya biaya hidup di kepulauan ini.

Mainyafun, seperti beberapa tempat lainnya di Raja Ampat tidak punya sumber pengolahan air bersih. Air bersih didatangkan dari Waisai, pulau dimana banyak elit lokal dan pemilik cottage tinggal.

“Kadang-kadang air didatangkan dua kali dalam sebulan, bahkan bisa sekali dalam dua bulang,” kata Asmiyati.

Masyarakat setempat kadang mengkonsumsi air hujan. Walaupun ada air yang dialirkan dari gunung ke pusat kampung namun air itu mengandung mineral yang sangat tinggi.

“Tak ada listrik dan sinyal telepon. Sebagian besar penduduk di Kepulauan Mainyafun mengatakan pendidikan adalah hal yang sangat mewah. Mereka hanya sanggup sekolah hingga tamat Sekolah Dasar yang secara kebetulan menjadi satu-satunya level sekolah yang tersedia,” lanjut Asmiyati.

Jika mereka ingin melanjutkan sekolah, mereka harus pergi ke Waisai. Perjalanan ke Waisai membutuhkan biaya lebih dari satu juta rupiah sekali jalan.

“Empat jam naik perahu fiber dari Mainyafun. Kadang tidak ada peralatan keselamatan,” ujar Asmiyati. (*)

Kemiskinan Parah di Balik Dahsyatnya Promosi Raja Ampat

Sebuah rumah penduduk di Raja Ampat. (Foto: Adam Howarth/Flickr, CC BY-NC-ND)

BIRMINGHAM, SATUHARAPAN.COM – Di balik promosi dahsyat tujuan wisata Raja Ampat di Papua, terdapat kemiskinan parah dan rakyat yang merasa ditinggalkan. Ini dikatakan oleh Asmiati Malik, kandidat doktor di University of Birmingham, Inggris, berdasarkan kunjungan untuk penelitiannya ke Raja Ampat belum lama ini.

Menulis di The Conversation, sebuah media online yang mengkombinasikan laporan akademis dengan gaya jurnalistik, Asmiati membandingkan demikian gegap gempitanya promosi pariwisata tentang Raja Ampat secara global dengan tak banyaknya yang mengetahui bahwa rakyat di sana hidup dalam tingkat kemiskinan yang parah, terasing dan merasa ditinggalkan.

Dahsyatnya pariwisata Raja Ampat dapat terlihat  sampai ke Time Square di New York. Sepanjang Oktober, sebuah billboard besar dengan gambar pemandangan di Raja Ampat digelar, dengan tagline, “escape to a magical place.” Daya tarik gambar itu, menurut Asmiati, menyembunyikan kemiskinan masyarakat yang tinggal di pulau-pulau di Raja Ampat.

Billboard besar di Time Square yang menggambarkan keindahan Raja Ampat, akan ditampilkan sepanjang bulan Oktober (Foto: Kompas)

Bagi yang belum akrab dengan destinasi wisata ini, Raja Ampat adalah sebuah gugusan pulau-pulau di  semenanjung Kepala Burung Papua Barat. Ia merupakan salah satu tempat menyelam terbaik di dunia. Ikan tropis warna-warni dapat terlihat dengan mata telanjang di lingkungan lautnya yang masih murni dengan keanekaragaman hayati yang masih alami.

Namun, bila bagi para wisatawan ia merupakan surga dunia,  bagi 20 persen dari 45.000 penduduknya, kemiskinan dan ketertinggalan adalah kehidupan sehari-hari. Menurut Asmiati, akses mereka sangat terbatas terhadap kesehatan, pendidikan, dan pasar.

Asmiati mengutip data tahun 2015, yang mengatakan empat dari tiap lima rumah tangga di Raja Ampat menghabiskan rata-rata US $ 65 per bulan hanya untuk makanan dan barang konsumsi lainnya. Itu 10 persen lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Penyebabnya, biaya hidup di pulau-pulau itu  begitu tinggi.

Jauh Dari Mana-mana

Dibutuhkan sekitar delapan jam untuk mencapai Raja Ampat dari Jakarta. Dari Sorong, sebuah perjalanan dengan feri diperlukan untuk sampai ke pulau Waigeo, salah satu dari empat pulau utama dari 1.800 pulau di Raja Ampat.

Waisai, ibukota Raja Ampat, terletak di Waigeo, pulau terbesar dalam gugusan pulau-pulau itu Di sana ada beberapa  cottage, sebagian besar dimiliki oleh elit lokal. Sebagian besar kegiatan pemerintahan dan administrasi Raja Ampat juga berpusat di Waisai. Namun populasinya tersebar di banyak pulau-pulau.

Seorang pekerja kesehatan berusaha untuk mendapatkan sinyal bagi ponselnya (Foto: Asmiati Malik)

Pada bulan April 2016, Asmiati tinggal  di pulau Mainyafun, empat jam dengan perahu dari Waisai untuk penelitian doktoralnya. Mainyafun dihuni 55 rumah tangga, dengan masing-masing keluarga memiliki antara sembilan dan 12 anggota keluarga.

Asmiati menulis, bahwa seperti di banyak kota di Raja Ampat, Mainyafun tidak memiliki fasilitas pengolahan air. Air bersih untuk minum diangkut dari Waisai, dua kali sebulan atau dua bulan sekali tergantung pada musim. Penduduk desa juga mengumpulkan air hujan untuk minum. Air dari gunung disalurkan ke pusat desa, tetapi memiliki kandungan mineral yang sangat tinggi.

Lebih jauh, menurut laporan Asmiati, tidak ada listrik dan tidak ada sinyal telepon. Kebanyakan orang menyebut pendidikan sebagai “barang bergengsi”, dan hanya belajar untuk sampai tamat sekolah dasar. Itu lah sekolah tertinggi yang tersedia di desa itu.

Untuk melanjutkan sekolah di luar tingkat SD, siswa di Manyaifun harus pergi ke Waisai. Perjalanan memakan biaya US $ 100 atau Rp 130 ribu dengan perahu   fiberglass yang sering tanpa peralatan keselamatan.

Hidup Tekor

Berada di daerah yang melimpah dengan ikan, kebanyakan penduduk di pulau ini mencari nafkah sebagai nelayan. Tapi banyak dari mereka masih hidup dalam kemiskinan ekstrem. Sebagian besar keluarga memiliki utang kepada pemilik toko kecil penjual barang kebutuhan pokok di sana.

Harga  ikan yang mereka jual sangat rendah sehingga bahkan jika mereka menangkap sepuluh kilogram setiap hari, mereka masih kehilangan uang. Nelayan membutuhkan lima liter bahan bakar per hari untuk mengoperasikan perahu kecil mereka. Tapi bahan bakar langka dan sangat mahal, dan lima liter biaya Rp 162 ribu.

Nelayan menjual ke pengepul di Mainyafun yang memprosesnya menjadi ikan asin. Harga jual maksimal di Mainyafun adalah US Rp 2.600 per kg, jadi sepuluh kg ikan mendapat sekitar Rp 26 ribu. Setelah biaya bahan bakar, mereka akan merugi Rp 136 ribu

Harga ikan di Waisai sepuluh kali lebih tinggi, dan 20 kali lebih tinggi di Sorong. Tapi nelayan di Mainyafun harus menjual ikan mereka langsung karena tidak ada listrik untuk cold storage.

Orang perlu kapal yang lebih besar, bahan bakar yang lebih murah dan akses ke pasar Waisai atau Sorong untuk mendapatkan harga yang lebih baik bagi ikan mereka. Tapi perahu yang layak dengan mesin yang dapat membawa volume yang lebih besar  ikan perlu biaya Rp 130 juta yang tidak mungkin bagi mereka untuk membelinya.

Tak Ada Pemerintah

Ada sebuah puskesmas kecil di Manyaifun. Satu dokter dan empat perawat yang bekerja di sana melayani tujuh kecamatan yang tersebar di pulau-pulau tetangga.

Banyak pasien mereka adalah nelayan yang meninggalkan rumah mereka pukul lima pagi dan kembali pada pukul lima sore. Petugas kesehatan harus siaga sepanjang waktu.

Masalah yang paling umum adalah malaria, infeksi kulit dan penyakit pernapasan. Kematian saat melahirkan adalah umum bagi wanita. Hanya obat-obatan dasar dan generik yang tersedia di klinik, dan kadang-kadang persediaan langka.

Hidup di sebuah pulau terpencil tanpa sinyal telepon membahayakan baik petugas kesehatan dan orang-orang yang mereka layani. Pasien yang memerlukan perawatan darurat, seperti malaria kronis, sering akhirnya meninggal. Satu-satunya rumah sakit dengan peralatan yang layak berada di daratan Kota Sorong, 135 kilometer jauhnya.

Para pekerja kesehatan kadang-kadang harus pergi ke pulau-pulau untuk keadaan darurat kesehatan dengan memakai kapal kecil tetangga. Mereka harus mengabaikan fakta bahwa kadang-kadang ombak mencapai hingga tiga meter. Ini lebih buruk jika mereka harus pergi di malam hari karena tidak ada alat navigasi modern atau informasi tentang cuaca yang dapat diharapkan.

Petugas kesehatan hanya mampu menemui keluarga mereka sekali atau dua kali setahun. Sebagian besar mereka berasal dari Sorong dan Sulawesi Selatan, yang 1.532 kilometer jauhnya. Menurut Asmiati, gaji pokok pekerja kesehatan atau pegawai kontrak  di sana lebih kurang Rp 2 juta sebulan, gaji yang hampir sama di seluruh Indonesia. Namun, jumlah itu sangat kecil bila dibandingkan dengan tuntutan tugas pekerja kesehatan di Manyaifun, yang acap kali pula terlambat dibayar.

Sementara itu, Indonesia mempromosikan Raja Ampat ke dunia dengan dahsyatnya. Pada saat yang sama masyarakat setempat dan petugas kesehatan merasa ditinggalkan. Mereka jarang melihat para pejabat pemerintah di daerah mereka. Menurut wawancara Asmiati dengan dokter setempat dan perawat, birokrat di Waisai, terutama dari badan kesehatan, tidak peduli tentang kehidupan, keselamatan atau kebutuhan emosional mereka.

Para pejabat pemerintah daerah, menurut Asmiati dalam wawancara, mengatakan bahwa mereka mencoba untuk meningkatkan kesejahteraan dengan mengajar orang bagaimana membangun homestay bagi wisatawan dan bagaimana untuk mempromosikan secara online. Tapi penduduk setempat dan petugas kesehatan mengatakan mereka belum pernah bertemu pejabat yang telah mengunjungi daerah mereka.

Menurut Asmiati, kemiskinan di Raja Ampat adalah refleksi dari peran penting  negara dalam proses pembangunan. Hanya melalui perhatian yang layak dari elit di Raja Ampat, dan pengawasan dari pemerintah pusat, perubahan dapat tiba kepada orang-orang miskin di daerah. Sebelum itu terjadi, Indonesia mungkin perlu berpikir dua kali tentang iklan Raja Ampat sebagai surga di Bumi.

Editor : Eben E. Siadari

Cenderawasih, Burung Surga Di Papua ( Bagian II )

JAYAPURA — Burung Cenderawasih, burung surga di Tanah Papua. Spesies ini merupakan sekumpulan  spesies burung yang dikelompokkan dalam famili Paradisaea yang  terdiri dari 14 jenis dan 43  spesies.

Andhiani Manik Kumalasari selaku Communication, Campaign, and Outreach Coordinator WWF Indonesia wilayah Papua menuturkan upaya konservasi burung Cenderawasih itu perlu keterlibatan banyak pihak. Menurutnya, undang-undang dan aturan secara internasional sudah ada.
“Data populasi di Papua, WWF belum ada datanya, karena memang luas cakupannya. Cenderawasih hampir bisa ditemui di semua wilayah di Papua,” kata Andhiani.
Dari WWF sendiri, dijelaskannya conservasi cenderawasih pertama-tama memang berangkat dari survey habitat dan populasi. Untuk habitat, bisa mendata jenis vegetasi atau pohon tempat tinggal burung, nantinya dapat merekomendasikan jenis-jenis pohon tersebut untuk tidak ditebang dan areanya tak dibuka. “Habitat juga terkait untuk referensi lokasi potensi ekowisata bird watching burung cenderawasih,” dijelaskan Andhiani.
Menurutnya, yang kurang memang sosialisasi undang-undang dan filosofi cenderawasih sebagai simbol budaya. Ia melihat hal ini justru yang menjadi bias, karena menjadi simbol budaya, jadi burung cenderawasih banyak diburu untuk dijadikan souvenir dan hiasan.
“Untuk mengeskpose lokasi-lokasi habitat burung cenderawasih ini, WWF juga berhati-hati, takutnya menjadi boomerang. Memberikan informasi ke orang tak bertanggung jawab untuk menemukan lokasi berburu,” ujarnya.
Upaya yang perlu dilakukan menurutnya, harus ada sinergitas dengan instansi pemerintah, seperti BBKSDA. Selama ini instansi tersebut telah menjadi mitra WWF, dan perlu juga adanya penyadartahuan ke masyarakat tentang makna dan filosofi cenderwasih.
“Setahu saya, dari beberapa sharing info yang saya dapat, yang boleh memakai ornamen cenderawasih asli itu hanya orang-orang terterntu, ondoafi atau tetua adat. Dan tak bisa sembarang orang yang memakainya. Ini yang perlu disebarluaskan,” katanya.
Saran yang dianjurkan, dikatakan Andhiani yakni melalui iklan layanan masyarakat dari tokoh-tokoh kunci seperti Gubernur dan Bupati Walikota untuk tak menggunakan ornamen cenderawasih asli sebagai souvenir atau hiasan di acara seni, fesitival atau hadiah ke tamu kehormatan.
“Di beberapa tempat sudah ada kesadaran kok, para penari dalam kegiatan festival atau event sudah mengunakan burung cenderawasih imitasi untuk hiasan rambut,” tuturnya.
Paling penting, ditambahkan Andhiani yaitu adanya penegakan hukum tentang berburu burung cenderawasih, selain itu pengawassan dari stok holder yang terus saling berkoordinasi setiap waktu.
Pada tahun 2014 lalu Gubernur Papua Lukas Enembe pernah menghimbau agar tak menggunakan hiasan kepala dari bangkai burung cenderawasih. “Jangan  lagi menggunakan burung Cenderawasih sebagai hiasan kepala dari burung yang diawetkan. Jika memakai  itu harus menggunakan yang imitasi,  tidak boleh yang asli,” kata Lukas Enembe.
Kearifan lokal masyarakat terhadap perlindungan burung Cenderawasih di Papua tentunya berdasarkan pada mitologi di setiap daerah di Papua. Khususnya di Merauke dan Mappi  terdapat kearifan masyarakat  tentang perlindungan burung Cenderawasih.
Di Kabupaten Merauke burung Cenderawasih menjadi  lambang dari marga Mahuze,  sehingga oleh marga Mahuze, pemanfaatan burung Cenderawasih  tidak diperbolehkan dalam bentuk apapun. Marga atau klan  ini masih memegang kearifan dalam menjaga burung Cenderawasih  sesuai mitologi yang diwariskan  secara  turun  temurun.
Sedangkan di Kabupaten Mappi,  terdapat  juga kearifan masyarakat dalam mitologi yang diwariskan dalam kehidupan masyarakat adat  suku Auwuyu  seperti  cerita asal muasal burung Cenderawasih.